Di Bawah Lindungan Ka’bah (Kritik: antara 1981 dan 2011)

Di Bawah Lindungan Ka’bah adalah sebuah novel yang ditulis oleh Haji Abdul Malik Karim Amrullah yang lebih dikenal dengan Buya Hamka, beliau adalah seorang Ulama yang juga Sastrawan dan aktivis politik dan meninggal tahun 1981.

pada tahun 1981, novelnya di angkat di layar lebar dengan judul yang sama. Berlatar Ranah Minang dan bersetting tahun 1940-an, sehingga saat itu masih ada Penjajah Belanda yang berkuasa.
diceritakan pemberontakan rakyat Minangkabau terhadap penjajahan Belanda yang tidak adil pada rakyat yang menyuarakan hak berbicara dan menegakkan kebenaran serta kesewenangan Penjajah dalam menangkap seorang Ulama.

Film ini juga menceritakan tentang sepasang suami isteri Minangkabau Muslim di Padang. Dalam Islam, seorang suami yang soleh berhak untuk menjaga isterinya. Akan tetapi, si suami dalam film ini sangat ketat dalam mengawasi gerak-geri istrinya, dan kalau ditemukannya ada sebuah kesalahan meskipun sedikit, sang suami akan mendera istrinya habis-habisan untuk melepaskan marah dengan alasan bahwa ini adalah cara yang benar dalam Islam. Akan tetapi jelas istrinya merasa tidak berbuat dosa dengan suaminya dan juga menurut agama Islam tidak diperkenankan cara seperti itu. Pada intinya, sang istri juga ingin menjadi seorang wanita yang mempunyai hidup sendiri. Akhirnya sang istri meminta cerai kerana merasa ditindas dan berharap akan menyelesaikan masalah ini. Akan tetapi nampaknya ulama di kampungnya tidak setuju dengan keputusannya dan tidak peduli terhadap keadaannya dan membiarkan sang istri hidup sengsara dengan mendukung pendapat suaminya. Pada saat itu, sang istri merasa bahwa ajaran Islam seperti menindas kaum wanita, lalu sang istri berkeinginan untuk meninggalkan amal ibadah dan keluar dari ajaran agama Islam. Tetapi hal ini diurungkannya selepas permintaan cerainya diterima oleh pengadilan Syariah di Padang. Sang istri yang telah bercerai ini akhirnya menjadi bersemangat kuat kembali, berkarisma dan berkeinginan untuk menegakkan ajaran agama Islam dan mebela hak bangsa Indonesia – walaupun ditindas oleh pihak penjajah Belanda. Sementara itu, banyak di antara masyarakat Minangkabau yang juga turut berjuang dalam hal yang sama.

sebelum pembuatan film DBLK tahun 1981, sang sutradara Asrul Sani sering berkonsultasi pada Buya Hamka selaku penulis novel agar tidak kehilangan arah dan tujuan dari ditulisnya Novel, namun pada tahun 2011 Hanny R. Saputra mendaur ulangnya menjadi film yang aneh..

banyak iklan yang masuk di adegan sehingga menghilangkan sisi pesan dari kisah tersebut.
yang tadinya digambarkan Hamid sedang menyundut cerutu malah dikasih gambar dia sedang makan sesuatu seperti Gery Chocolatos yang memang mirip cerutu.. lalu ada juga adegan makan kacang Garuda bertuliskan “Katjang Garuda” padahal perusahaan itu sendiri baru berdiri pada tahun 1970-an..

pesan moralnya pun kurang, dan terlalu banyak bumbu sinetronisme.. terlalu mendramatisir dan terlalu melankolis..

Advertisements

2 thoughts on “Di Bawah Lindungan Ka’bah (Kritik: antara 1981 dan 2011)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s