13 Calon Istri

kisah ini saya ketik ulang dari buku menjemput bidadari karya Nurul F. Huda berjudul 13 calon istri

Rizal menghela napas. Ditatapnya amplop putih di tangan, lalu ganti menatap pintu rumah tepat didepannya. Semenit… dua menit… lima menit, kemudian barulah sosok yang lumayan tinggi besar itu berani memukulkan buku-buku jarinya di kayu jati berukir seraya mengucapkan salam.
Sekali lagi tidak ada jawaban, Salam kedua terdengar sahutan yang segera diiringi bunyi langkah mendekat.
“Oh? Antum, Jal. Masuk. Pagi sekali antum kemari. Ehm… penting, ya? OK, duduk dulu, deh. Aku masih harus memasukkan beberapa notulen untukbahan mengajar hari ini. Tidak sampai sepuluh menit,”seorang laki-laki menjelang tiga puluh lima menyilakan Rijal duduk seraya menyodorkan majalah terbaru.
“eng… Bang Kifli pergi jam berapa?” Rijal menatap laki-laki itu penuh harap.
“Jam delapan. Sekarang masih jam setengah tujuh. Antum punya cukup banyak waktu kukira. Soal apa?”tatapan Rijal menahan langkah Kifli sejenak.
“E… soal. Ah, nanti saja,” Rijal menunduk.
Kifli angkat bahu dan berlalu. Langkah Kifli disambut seorang wanita yang tengah menyuapi dua balita berumur dua dan empat tahun. Nita, Istrinya. Mata Nita melirik ruang tamu.
“Rijal, ya?”bisik Nita.
Kifli mengangguk. Tangannya sibuk membenahi kertas.
“Masih mengenai calon istri?”Tanya Nita lagi.
Kifli angkat bahu.
“Mi, kalau nanti urusan Rijal belum selesai, Ummi boleh ikut menangani,”Ujar Kifli penuh arti.
Nita tertawa kecil,”Jangan deh, Bi. Ummi cuma punya satu kata untuk dia,”jawab Nita.
“Apa itu?”alis tebal Kifli bertaut.
“Nggak sabar!”tawa Nita hampir pecah, tapi Kifli langsung mengingatkannya.
Usai menyiapkan tas, Kifli segera ke ruang tamu dengan nampan berisi minuman dan penganan yang sudah disiapkan istrinya. Nita tersenyum menggeleng.
“Ayo, Jal. Minum dulu. Mau langsung atau pakai prolog?”Kifli tersenyum lebar.
Rijal meneguk tehnya hati-hati. Tangan pemuda itu mengangsurkan amplop putih yang sejak tadi digenggam. Wajahnya menunduk.
“Apa ini? Apa maksudnya?”
Kifli membuka amplop tersebut. Dua lembar foto berjilbab, beberapa helai kertas penuh tulisan menyembul seketika. Kifli mendesah.
“Tidak jadi?”tanya Kifli serak.
Rijal masih menunduk,”Saya sudah pikirkan, istikharahkan, tapi… tetap tidak mantap. Lagi pula…”
“Masih belum memenuhi kriteria yang antum inginkan?”nada suara Kifli berubah.
Rijal mendongak, menatap Kifli sesaat. saat berikutnya ia hanya berani memandang lukisan kaligrafi yang tergantung di dinding.
“Istri adalah teman kita di dunia, bahkan Insya Allah di akhirat. Pernikahan nilainya setengah dien. Kita memang harus selektif bukan?”Rijal berdiplomasi.
“Selektif apa yang antum maksudkan? Afwan, Jal. Ini sudah akhwat ketiga belas yang antum tolak,”Tandas Kifli.
Rijal diam.
“Ya… tapi kan mereka tidak tahu. Mereka hanya tahu sudah menyerahkan biodata ke guru ngajinya, lalu menunggu seorang ikhwan mengajukan tawaran. Bang Kifli menawari saya. Satu demi satu. Saya tidak menolak. Tapi kalau sampai taearan ketiga belas itu saya tetap belum cocok… bagaimana lagi? Tawaran itu tentu saya kembalikan. Toh Bang Kifli masih bisa menawarkan akhwat-akhwat itu ke ikhwan
lain, dan saya tentu tidak akan bilang bahwa mereka pernah ditawarkan ke saya dan saya lihat biodatanya,”jawab Rizal datar.
Kifli menghela napas, meredam kesal yang terasa membuncah,”Saya tidak mempermasalahkan prosedur ini. Saya hanya heran, seperti apa yang sebenarnya antum inginkan hingga tiga belas biodata akhwat yang tentu saja beragam itu, antum kembalikan semua?”nada suara Kifli meninggi.
“Sampai saya menemukan yang saya inginkan, barulah biodata itu saya tahan.”
Kifli menatap jam dinding. Rijal ikut-ikutan.
“Jam tujuh. Masih setengah jam lagi. Jujur, Jal. Saya mulai tidak sabar dengan antum. Tidak ada ikhwan yang sere… maksud saya sepemilih antum. Sekali, dua kali, jadi. Sudah setengah tahun lebih sejak antum menyatakan siap menikah dan minta dicarikan istri, kerjaanmu hanya membolak-balikkan biodata akhwat. Tiga belas! Bukan angka yang sedikit. Itu baru biodata. Bagaimana bila antum OK dengan biodatanya, tapi setelah ta’aruf tidak cocok pula?” Kifli menekan nada suaranya dengan susah payah.
“Tentu saja saya tidak akan terus. Bahkan meski sudah ta’aruf, tapi kondisi keluarga dan orang tua saya tidak berkenan, saya tetap tidak akan berani melanjutkan. Saya tidak mau main-main dengan yang satu ini,”jawab Rijal pasti.
kifli terdiam. Ditatapnya adik binaannya itu dengan pandangan campur aduk antara jengkel, heran, dan tidak mengerti.
“Saya masih ingat beberapa akhwat itu. Ada yang cantik, yang berpenghasilan, yang keluarganya bagus, baik secara sosial maupun keimanan, yang aktivis, yang…”
“Bang Kifli masih ingat kriteria saya, kan?”desis Rijal tajam, memotong kalimat Kifli.
Laki-laki itu terpaku sejenak. Kepalanya menggeleng-geleng.
“Beberapa. Selebihnya hanya ingat saat saya membaca biodata antum tentang kriteria istri yang diinginkan, yang sampai dua lembar itu,”jawab Kifli tandas.
Sepi. Suasana tidak menyenangkan menyelimuti ruang tamu yang kecil itu. Bukan kali yang pertama. Sejak biodata akhwat yang dikembalikan Rijal mencapai hitungan kelima, sebenarnya Kifli mulai tidak sabar. Hanya saja ia berharap Rijal berubah pikiran. Ternyata setelah nyaris tiga kali lipatnya, pemuda itu masih seperti semula.
“Hhh. Sudah setengah delapan. Afwan, Jal, saya harus mengajar,”Kifli berdiri.
“Saya juga ada rapat. Ehm… kedatangan saya ke sini cuma ingin mengembalikan itu. Tapi kalau dapat kultum, tentu saya tidak menolak,”Rijal berusaha melucu.
Kifli hanya tersenyum tipis. Begitu bayangan Rijal segera hilang bersama sepeda motornya, Kifli memungut amplop yang isinya sempat terserak. Dimasukkan foto dan lembar biodata tersebut dengan masygul.
“Mi, Abi berangkat!” teriaknya saat tidak dilihat Nita di ruang makan. Nita yang tengah menjemur pakaian di halaman belakang bergegas ke ruang tamu.
“Eh, berhasil?” Tanya Nita penuh harap.
Kifli mengarahkan dagunya ke amplop yang tergeletak di meja. Nita mendesah.
“Kurang apalagi, sih…”desisnya sebal.
Kifli angkat bahu. Setelah mencium ketiga anggota keluarganya, laki-laki itu segera berangkat kerja. Nita meraih amplop, menimangnya sebentar sebelum membawanya ke almari penyimpanan. Masih ada beberapa amplop serupa disana. Sejenak Nita ingin memeriksa, barangkali ada yang cocok untuk tamunya barusan. Tapi tangan Nita berhenti di udara. Ia justru menutup pintu almari itu dan menguncinya.
Kifli meletakkan lembar-lembar kertas yang ia pegang. Malam dingin. Sisa hujan tadi sore masih menyisakan gerimis. Sesekali angin terdengar bersemiyut. Bunyi kodok berorkestra meningkahi perbincangan sepasang suami istri itu.
“Bisa carikan akhwat yang rijal mau, Mi?”Tanya Kifli sambil lalu.
“Apa? Kalaupun ada, belum tentu akhwatnya mau,”Nita menjawab segan.
“Dicoba dulu. Kriterianya… ehm sebentar, Abi bacakan. Akhwat, S1, Lulusan UGM, suku Jawa, aktivis pergerakan, aktif membina kajian, aktif di TPA, usia maksimal dua
tahun lebih tua, wajah tidak mengecewakan….”Kalimat Kifli terpotong dengusan istrinya.
Laki-laki itu menatap perempuan dihadapannya heran,
“Tidak mengecewakan versi Rijal itu seperti apa? Ria yang manis saja ditolak.”
“Eh, sebentar. Belum selesai. Tinggi minimal 155….”
“Sudah, sudah. Ummi sudah baca biodata Rijal berkali-kali. Makannya, dulu Ummi mau bantuin milih biodata akhwat sampai tiga belas kali. Sekarang, biar Rijal cari sendiri akhwat yang dia inginkan. Kalau urusan kriteria, biar berlembar-lembar juga… nggak ada habisnya. Sudah cantik, sarjana, berpenghasilan, aktivis, belum tentu sudah puas,”Ujar Nita sewot.
“Maksud Ummi?” Kifli meletakkan biodata Rijal lesu.
“Coba saja bilang ke Rijal,. Jal, ini ada akhwat seperti yang antum inginkan. Tapi nggak bisa masak. Pasti dia nggak mau, trus bilang ke Abi, Bang, memasak itu kan kriteria tidak langsung yang tidak perlu dicantumkan,”Jelas Nita ketus.
“Trus?”senyum Kifli terulas.
Menurutnya, kalau Nita sedang marah makin manis.
“Kita dapatkan lagi akhwat baru. Trus kita bilang ke Rijal, ada nih. Tapi kurang bisa menata rumah. Pasti di tolak juga sama Rijal,”lanjut Nita.
“So? Kesimpulannya?”kejar Kifli.
Nita terdiam,”Rijal tuh sebetulnya belum siap nikah. Yang bicara bukan hatinya, tapi kemauannya yang entah lebih banyak bersumber dari akal atau nafsu. Kalau orang orang sudah benar-benar siap menikah, ia pasti lebih mengedepankan ketajaman mata hatinya. Ia lebih mengedepankan keinginan untuk menjaga diri dan membangun salah satu pilar dakwah. Karena itu, yang terpenting baginya adalah menerima calon istri yang ditawarkan dengan ketulusan dan kepasrahan akan pilihan dari-Nya. Bukan semata-mata didorong dua halaman kriteria itu,”jelas Nita.
Kifli mengangguk-angguk,”Abi sepakat. Tapi Rijal kan punya alasan mengapa dia perlu menulis sebanyak itu tentang istri yang diidamkannya,”desah Kifli.
“Siapa yang menjamin bahwa pilihan kita akan tetap seperti saat kita memilihnya? Iman kan yazzidu wa yankus, Rasul saja menggambarkan berbolak-baliknya hati seperti daun ditiup angin di tengah sahara. Hanya dengan doa dan keyakinan bahwa skenario-Nya adalah yang terbaik, maka kita akan tetap mengutamakan keimanan di atas kriteria apa pun,”ulas Nita.
“Kata Rijal sudah sudah istikharahkan,”gumam Kifli.
“Istikharahnya netral nggak? Pasrah nggak? Kalau…”
“Sssh. Sudah, ntar malah jadi ghibah. Abi kan pengen dengar pendapat Ummi tentang masalah ini, bukan komentar atas ibadah rijal,”Kifli tidak senang.
Nita terdiam.
“Habis… Ummi kesal. Kalau ada akhwat yang nolak ikhwan, kesannya gimana banget. Tapi kalau ikhwan pilih-pilih, dianggap biasa,”protes Nita.
Kifli terkekeh,”Ah, nggak juga. Akhwat boleh kok nolak, bahkan misal hanya karena masalah fisik. Akhwat kan kalau dibujuk gampang, beda sama ikhwan.”
“Contohnya Rijal,”sahut Nita cepat.
Kifli menggeleng-geleng,”Ummi senewen sekali dengan Rijal.”
Laki-laki itu meraih pundak istrinya, mengajaknya masuk. Udara di ruang tamu mulai dingin.
Tiga bulan berikutnya, masalah Rijal masih mengambang. Kifli tidak bersemangat menyodorkan biodata akhwat lain. Rijal sendiri segan meminta lagi. Nita hanya bisa menggeleng tidak mengerti. Kalau memang sudah siap dan merasa perlu menikah, bisa-bisanya sembilan bulan menahan diri hanya demi menunggu akhwat impian yang belum tentu bisa jadian, pikir Nita tercenung.
Tiba-tiba sebuah pikiran melintas di benak Nita. Pikiran yeng terus saja mengganggu hingga tak sabar rasanya menunggu kepulangan Kifli untuk menyampaikan semua itu. Maka, begitu Kifli datang, Nita segera mengejar.
“Soal Rijal. Ummi punya dugaan yang mungkin bisa menolong,”ujar Nita.
Kifli yang tengah duduk melepas sepatu, mendesah.
“Rijal lagi. Apa tidak ada topik lain?”tanya Kifli.
Nita tersenyum mengangsurkan segelas air dingin yang dihabiskan suaminya dalam beberapa tegukan sekaligus.
“Begini, Bi. ummi menduga, Rijal sebenarnya mengincar akhwat tertentu. Hanya saja, dia tidak berani terbuka. Dia berharap, dengan seabreg kriteria itu kita bisa menebak, siapa yang dia maksud,” Nita menguraikan dugaannya. Kifli diam.
“Trus, siapa akhwat itu?” Tanya Kifli sambil lalu.
Nita terlihat berpikir.
“Ummi… juga tidak berani menebak. Abi tanya saja si Rijal. Ayo, Bi Biar segera selesai urusannya, segera terpetik manfaatnya,” bujuk Nita.
“Ya, sudah. Ummi telepon Rijal, suruh kesini penting.”
Kifli berdiri, meraih handuk yang tersampir di sandaran kursi. Mandi.
Rijal tersenyum kecil ketika Kifli menanyakan kepastian dugaan istrinya. Maghrib baru saja usai. Begitu ditelepon Nita, Rijal segera menyatakan akan ke rumah ba’da maghrib. Agaknya, dia sudah menduga, masalah penting apa yang akan dibicarakan. Nita yang membukakan pintu ketika Rijal datang.
“Betul, bang. Biodata tersebut memang saya buat dengan tujuan seperti itu. Saya berharap dipertemukan dengan akhwat yang saya mau. Tetapi tetap lewat abang, bukan saya yang ngomong ke dia,” ujar Rijal lirih.
Kifli menghela napas,”Siapa dia?”tanya Kifli sedikit penasaran.
Giliran Rijal yang mendesah. Pandangannya menerawang menembus halaman yang remang disinari lampu taman.
“Nina, adik mbak Nita,”jawabnya lirih.
“Apa?”Kifli terhenyak.
Nita yang menguping dari balik garden pembatas ruang tengah dan ruang tamu ikut-ikutan tercekat.
“Kenapa tidak bilang dari dulu? Kalau antum langsung menyebut namanya, aku kan tidak perlu memperlihatkan tiga belas biodata itu,”ujar Kifli keras.
“Afwan,”hanya itu ucapan Rijal.
Nita menghela napas dalam, prihatin.
Sepi. Lama. Rijal tertunduk. Satu sisi hatinya merasa was-was, namun sisi yang lain justru lega luar biasa. Bgaimanapun aku sudah mengungkapkan isi hatiku yang paling dalam, hibur Rijal diam-diam.
“Ya, sudah. Nanti aku bicarakan dengan istriku. Ntum tunggu saja kabarnya. Mudah-mudahan hasilnya baik untuk semua,”putus Kifli akhirnya.
Nita terpaku. Sosok semampai adiknya, Nina, berkelebat dalam bayangan.
***
Satu bulan kemudian. Rijal menanti dengan berdebar kabar yang akan disampaikan kakak binaannya itu. Kifli berdehem. Nita ikut-ikutan.
“Antum sudah siap, Jal? Apa pun hasilnya?”Kifli berusaha meyakinkan.
Rijal mengangguk. Nina, adik kelasnya di fakultas pernah dekat saat kepengurusan SKI dan mereka tetap sering berkomunikasi setelah sama-sama lulus.
“Istriku sudah menemui Nina. Mereka bicara cukup banyak. Nina minta waktu, sampai kemarin. Nah, hari ini aku sampaikan hasilnya,”Kifli terdiam.
“Nina… tidak bisa menerima keinginan antum terhadapnya,”lirih suara Kifli, tetapi membuat Rijal terpaku.
Ia kehilangan diri sesaat.
“Tapi… kenapa?”tanya Rijal parau.
Kifli masih diam,”Ia merasa tidak bisa memenuhi kriteria antum. Lagi pula, ia sangsi. Saat ini, mungkin hanya itu yang antum tuntut, tapi ia tidak yakin antum akan berhenti menuntut akhirnya. Ia tidak ingin antum kecewa. Oh, ya. Kata Nina, ia menunggu ikhwan yang mau menerima dia apa adanya. Itu saja,”jelas Kifli penuh tekanan.
Ruangan yang sebenarnya lumayan panas itu menjadi serasa dingin untuk Rijal. Beku. Pemuda itu membisu. Sebuah penolakan yang penuh sindiran, itu yang ia rasakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s