Syukur

kisah ini saya ketik ulang dari buku menjemput bidadari karya Nurul F. Huda berjudul Syukur

Setiap kali sampai pada surah Ar-Rahman, aku selalu meneteskan air mata.
Bukan penghayatan sebetulnya, melainkan kalimat”Fabiayyi ala irabbikuma tukadziban”
akan mengingatkan ku pada peristiwa yang nyaris membuat rumah tanggaku di ambang keretakan.
Peristiwa itu juga menjungkirbalikkan pikiran dan perasaanku terhadap Dian,
istri yang kala itu telah memberiku dua orang anak dan menemaniku selama tiga tahun
menggenapkan dien.
***
Acara aqiqah anak keduaku selesai sejak seperempat jam lalu.
Tamu sekitar rumah sudah banyak yang meninggalkan rumah kontrakanku.
Tinggal beberapa teman akrab sesama aktivis, sekaligus teman kuliah dulu yang masih tersisa.
Istriku di ruang tengah, dikerubungi isrtri-istri mereka.
Suara ibu-ibu itu nyaris menembus teras, tempat kami berkumpul.
“Mau nambah berapa lagi anakmu, Bim?” tanya Adi, teman akrabku.
“Minimal delapanlah. Punya anak sepuluh kan rame,”sahutku semangat.
“Sepuluh! Aku juga, ah. Kita balapan, yuk!”Adi menepuk bahuku keras.
Ia sudah dikaruniai seorang anak, empat bulan umurnya.
“OK! Siapa takut!” aku menjawab serius.
Adi mengangguk-angguk.
Sudah menjadi semacam konsesus bahwa setiap rumah tangga dakwah hendaknya mempunyai anak
sebanyak-banyaknya. Aku pun demikian. Ketika pengantin baru, aku bilang ke istriku kalau
ingin anak sepuluh. Ia hanya tersenyum tipis waktu itu. Alhamdulillah, menjelang dua tahun
pernikahanku, aku sudah mendapat dua amanah yang lucu-lucu. Kami sangat gembira dan
bersyukur tentu saja.
Akan tetapi sebulan setelah itu, tepatnya ketika aku mengantar istriku periksa ke dokter
kandungan langganannya, aku menerima kabar yang kurang menyenangkan. Istriku sendiri yang
mengatakan pada malam harinya menjelang tidur.
“Dokter Erna menyarankan dengan sangat, supaya…Bunda tidak punya anak lagi. Risikonya
terlalu besar. Dua anak kita lahir caesar. Lagi pula, kondisi jantung Bunda semakin lemah.
Dokter Erna sudah berkonsultasi dengan dokter Jun dan beliau sependapat. Bagaimana, Yah?”
Dian menatapku. Tatapan yang sulit kumengerti. Dokter Erna adalah dokterkandungan yang
merawat istriku selama hamil hingga saat melahirkan. Dokter Jun adalah dokter jantung
dan pembuluh. Langganan istriku sejak ia dinyatakan lemah jantung, dua belas tahun yang lalu.
“Masak tidak ada jalan lain?” aku keberatan. Celotehanku dengan adi saat aqiqah A’la,
putriku, terngiang di telinga. Sangat jelas.
“Jalan lain… maksud Ayah?”nada suara istriku bergetar.
“Ya… Bunda dikondisikan bisa tetap punya anak lagi,”ujarku.
“Tapi… yang paling dikhawatirkan adalah kondisi kesehatan bunda karena… akan
berpengaruh kepada si bayi. Dokter Jun tidak berani main-main. Ayah sendiri tahu, hampir
sebulan ini bunda bed rest karena jantung Bunda melemah pasca melahirkan A’la. Dokter
kan lebih tahu daripada kita,Yah. Bunda… juga tidak mau main-main.”
Aku menoleh. Istriku menangis. Sudah kutebak dari suaranya yang semakin parau. Aku
mendesah. Alangkah mudahnya perempuan menangis.
Kugenggam tangan Dian, “Bunda, dokter memang lebih tahu daripada kita. Tapi, mereka kan
manusia. Masih ada pembuat keputusan yang lebih berkuasa, Allah! Kita berdoa saja.
Siapa tahu bunda diberi kekuatan tak terduga sehingga keinginan kita untuk punya anak banyak
bisa tetap terlaksana, ya?”Kuelus rambut panjangnya.
Dia diam. Lama.
“Apakah… dua anak masih belum cukup?”tanya istriku tersendat.
Aku tertawa, “Ah, Bunda. Dua anak. Kayak KB saja. Sepuluh dong!”aku mencoba bercanda.
Tak kusangka. Bukannya tertawa, istriku justru makin tergugu.
“Bunda… Bunda tidak tahu, Yah. Ayah sudah tahu kondisi Bunda sejak Ayah menerima
biodata Bunda. Memang Allah Mahakuasa, tapi… bukankah yang dibaca dan dipelajari dokter
itu adalah ayat-ayat kauniyah-Nya? Kita memang boleh berharap akan datangnya keajaiban.
Namun, kita juga mesti melihat kenyataan agar siap menerimanya sebagai ujian.
Dan… ujian untuk kita sekarang… Bunda orang yang tidak normal, Ayah. Bunda…”Istriku
tidak melanjutkan kalimatnya.
“Hei, Ayah kan tidak mempermasalahkan Bunda normal atau tidak. Ayah cuma ingin punya anak
banyak. Ayah menerima keadaan Bunda kok,”aku berusaha menghibur.
Kuraih Dian dalam rengkuhan. Ia mengelak. Tatapannya nanar ke arahku.
“Ayah… tidak menerima keadaan bunda. Ini buktinya!”ia berbalik memunggungiku.
Sia-sia saja aku membujuknya. Malam itu kami lalui dengan beku.
Rumah mungil kamu yang terletak di pinggiran kota terasa berbeda hari-hari berikutnya.
Dian hemat senyum. Matanya lebih sering berkabut saat menatapku. Aku tidak tahu, di mana
salahku. Meski begitu, aku berusaha untuk membuatnya tersenyum, meminta maaf, bahkan
berjanji untuk tidak menyinggung hal itu lagi. Tetapi tidak banyak perubahan baik kurasa.
Istriku menjadi sosok yang sulit kutebak. Ia terkesan menjaga jarak. Entah mengapa?
***
Sore hari yang cerah. Kubelokkan motorku menuju rumah yang selalu kusambangi setiap minggu.
Bang Fikar. Ia langsung mengajakku masuk. Ya, aku sudah bicara sedikit tentang masalahku
di telepon. Hemat waktu.
“Bagaimana? bisa diperjelas apa yang tadi kamu ceritakan?”
“Dian, Bang. Dia berubah.”
Aku pun menjelaskan dengan rinci asal-muasal terjadinya kebekua diantara kami. Bang Fikar
mendengar ceritaku tanpa komentar. Agaknya ia tidak ingin terlewatkan setiap detailnya.
“Kalau memang Dian tidak mau ambil risiko, saya juga tidak akan memintanya hamil lagi.
Cuma… saya tetap ingin punya anak banyak,”aku mengakhiri kisahku.
“Anak kandung?”Bang Fikar menatapku dalam.
Aku tertawa,”Tentu saja, Bang,”Sahutku geli.
Ternyata Bang Fikar tersenyum pun tidak, “Caranya? Menikah lagi?”ucap Bang Fikar tandas.
Sepi.
“Entah. Mungkin.”
Aku tidak berani berterus terang meski itulah yang terlintas di benakku. Lintasan yang
beberapa hari sempat menghantui.
“Lalu, kalau istri berikutnya mandul, kamu mau menikah lagi? Sampai berapa? Siapa yang
bisa menjamin bahwa kita bisa punya anak? Bahkan yang sehat, normal, ada yang sudah enam
tahun belum mendapat keturunan. Bima, Bima. Mengapa kamu tidak bersyukur atas banyak
hal yang telah Allah karuniakan lewat istri kamu? Dian bukan akhwat sembarangan, Bim.
Wajah? Tidak mengecewakan. Harta? Penghasilannya dari mengelola kafe, kamu bilang bahkan
jauh melebihi gajimu sebagai dosen. Nasab? Dia masih keturunan ulama besar dikotanya, kan?
Salehah, karena saya tahu persis bagaimana sepak terjangnya di kampus, komitmennya terhadap
dakwah, bahkan hafalan dan shalatnya. Ia dulu dibina istri saya dan satu kos dengan adik
saya. Lalu, tiba-tiba sekarang kamu mengadukannya hanya, sekali lagi, hanya karena dia
kemungkinan besar tidak bisa lagi memberi kamu anak. Keinginannya? Bukan, kan Bim?
Keadaan yang sudah Allah gariskan untuknya,” Bang Fikar menghentikan rentetan kata-kata
yang tidak kuduga.
Aku terpaku dalam pojok gelap seorang terdakwa. Kutunggu kelanjutan kata-kata Bang Fikar
dengan tundukan kepala. Sungguh, aku tidak berani menatapnya. Aku tidak menduga akan
mendapat sambutan begini rupa. Sepertinya Bang Fikar sudah mempersiapkan semuanya.
“Saya termasuk orang yang salut kepadanya, Bim. Dengan kondisi fisik seperti itu, Dian
masih bisa menjadi aktivis yang mumpuni. Ada lagi. Kata istri saya, ia sudah tidak lagi
menyesali kondisinya. Ia bahkan bersyukur dan berharap mendapat rahmat dari kondisi
tersebut. Saya ingat sekali kata-katanya ketika kamu memilihnya,”Bang Fikar diam lagi.
Aku mengrenyitkan dahi. Penasaran. Dian belum pernah cerita.
“Saya tidak ingin kehadiran orang ini merusak perasaan saya terhadap-Nya, terutama terkait
dengan kondisi fisik saya. Kalau dia memaknai keadaan saya seperti saya memaknainya,
saya bisa menerima. Tapi kalau tidak, tolong sampaikan, saya lebih mencintai hubungan
dengan Rabb saya. Itu kata-kata Dian. Bukankah dulu kamu dengan tegas bilang, siap?
Sekarang… apa yang saya lihat…? Kamu mengingkari kata-katamu, Bim. Saya kecewa,”Bang
Fikar menggeleng-geleng.
Aku tercenung,”Saya… saya tidak mengerti. Apa hubungannya dengan keinginan saya?”tanyaku
bingung. Aku benar-benar bingung!
“Pikirkanlah. Saya… sedang tidak berminat untuk melanjutkan pembicaraan. Kamu boleh
datang lagi kalau kamu sudah menemukan jawaban. Afwan,”Bang Fikar berdiri.
Aku tergagap. Kutatap Bang Fikar lekat. Kakak binaanku itu hanya menggeleng. Matanya
mengarah ke pintu. Aku segera ikut berdiri, melangkah gontai keluar rumah dan menghampiri
motorku dengan bisu.
“Kamu… fabiayyi ala irabbikuma tukadziban?”desis Bang Fikar lirih tapi aku mendengarnya
dengan jelas.
Aku tidak lagi menoleh. aku tersinggung!
Jam di pergelangan tanganku menunjukkan pukul sembilan malam saat aku memasuki kamar.
Jarak rumahku dengan rumah Bang Fikar lumayan jauh. Dian ternyata belum tidur. Rupanya
ia sengaja menungguku. Wajahnya yang sebulan ini sepudat bulan kesiangan, terlihat lebih
cerah. Senyumnya merekah.
“Ayah sudah makan? Sudah Shalat? Ada acara ya?”ia bertanya hati-hati.
Aku bisa merasakan kelembutannya untuk menutupi sesuatu, entah apa.
“Ayah ada acara di tempat Bang Fikar. Errr… terus mampir makan. Lapar. Bunda… kenapa
belum tidur? Bunda kan harus banyak istirahat,” Aku tersenyum kaku.
Dian membalas senyumku dengan tak kalah wagu. Ya Rabb, apa ini artinya!
“Bunda… ingin bicara. Ayah punya waktu?” Dian mendekatiku yang tengah duduk melepas
sedikit penat di kursi teras.
Aku mengangguk,”Penting, ya? Ayah siap mendengar. Bunda ingin sesuatu?”tebakku.
Sepi. Kutatap wajah istriku yang tiba-tiba bersaput mendung. Gelap sekali.
“Ya. Bunda ingin sesuatu.”
Istriku ganti menatapku. Aku menggenggam tangannya erat,”Bunda… tidak ingin merepotkan
ayah lagi. Bunda tidak ingin… jadi penghambat cita-cita Ayah. Bunda… ingin… demi
kebahagiaan Ayah… kita… berpisah…”kata terakhir Dian sangat lirih, tetapi aku
mendengarnya dengan jelas.
“Bunda!”refleks aku berteriak.
Aku tidak mengira istriku akan bicara seperti itu. Kebingunganku akan sikap Bang Fikar
bertambah dengan sikap Dian. Kutatap istriku lekat-lekat dengan napas memburu. Dia menunduk,
sangat dalam.
“Ayah kan sudah tahu kondisi bunda. Kenapa Ayah tidak lebih mengutamakan menjaga
keselamatan bunda? Kenapa Ayah sepertinya tidak mau menerima kenyataan yang sekarang ada?
Bunda cuma… tidak bisa mengerti. Rasanya nikmat Allah kepada kita luar biasa. Kita
hidup layak, punya anak, dan yang paling penting… kita ada ditengah komunitas yang
berlomba dalam kuantitas dan kapasitas ibadah,”Dian berhenti, mengambil napas.
Aku meliriknya kasihan. Dia memang tidak bisa bicara panjang-panjang. Napasnya pendek.
“Banyak pasangan … bertahun-tahun belum punya anak. Ada yang hidupnya kekurangan.
Ada yang hubungan mereka tak lagi harmonis. Bunda… takut, Yah. Selama ini Bunda tidak
pernahmenyesali keadaan bunda dengan jantung… yang kembang-kempis ini. Tidak pernah, Yah.
Selamanya Bunda ingin seperti itu. Lalu… sekarang ayah menuntut sesuatu yang… sangat
mungkin Bunda tidak mampu… karena kondisi itu. Bunda takut… bunda mulai tidak ikhlas…
dengan ujian ini. Karena itu… supaya ayah… tetap bisa berharap keinginan ayah tercapai,
dan supaya Bunda… tetap bisa bersyukur… kita…”
“Cukup, Bunda! Hari ini ayah datang ke Bang Fikar dan dia mengatakan hal yang sama,
seolah-olah Ayah ini makhluk tidak tahu diri dengan pemberian-Nya! Ayah tidak akan menuntut
untuk Bunda memenuhi keinginan Ayah, tidak. Tapi Bunda juga jangan memaksa Ayah untuk
memutus imipian dengan cara seperti ini! Ayah tetap ingin bersama Bunda. Ayah cuma minta
Bunda mengerti!”tanpa bisa kucegah emosiku meledak. Aku merasa istriku egois.
Dian menangis terisak-isak, “Bunda cuma ingin… mendengar Ayah bersyukur atas apa yang
sudah ada… tanpa menuntut sesuatu yang belum pasti. Apalagi… itu menyangkut jiwa
seseorang… yang atas nama Allah, telah diamanahkan ke tangan Ayah. Itu saja…”ucap
istriku tersendat-sendat.
Dengan langkah goyah dia meninggalkanku begitu saja. Aku mendengus. Kesal. Tetapi sedetik
kemudian terdengar suara yang membuatku segera lari memburunya. BRUG!
***
Ruang ICCU, Rumah sakit PKU Muhammadiyah. Sudah tiga hari Dian terbaring di sana dengan
kondisi memprihatinkan. Matanya nyaris selalu tertutup. Bibirnya biru, serasi dengan
wajahnya yang pucat. Aku? Terpekur di tepi ranjangnya tanpa kata-kata. Kalau tidak penting
sekali, aku tidak beranjak dari sisi istriku itu.
Meski baru tiga hari, cukup bagiku untuk merasa kehilangan. Tidak usahlah disebut tentang
pekerjaan rumah tangga. Itu tidak begitu kupikirkan. Rumahku sesepu kuburan dan sehampa
pemakaman tanpa kehadiran Dian. Dua anakku dibawa Ibu. Si sulung menatapku dengan mata
berduka karena kehilangan orang yang selalu menemani dari saat bangun pagi hingga tidurnya.
Tetapi yang palin membuatku sedih, A’la terpaksa minum susu formula. Oh, betapa dia begitu
rewel karena tidak biasa. Kami, aku, dan Ibu, menangis bersama-sama di hari pertama karena
A’la berhasil kami tidurkan setelah manangis kelelahan. Gadis kecilku tidur dengan bekas
air mata di pipinya dan sisa tangis di sela-sela napasnya.
Kuraih tangan kurus Dian. Kuciumi dan kubasahi dengan tangis penyesalan. Langsung atau
tidak, akulah yang membuatnya terkapar disini sekarang. Bisa dibayangkan, suami macam
apa aku? Tidak bisa melindungi jiwa dan raga istrinya! Bukan hanya itu. Aku juga tidak tahu
berterima kasih. Dia telah memberikan jiwa, raga, bahkan harta untukku atas nama-Nya. Tetapi
aku? Bahkan sekedar membelikannya kerudung pun belum pernah! Sekarang malah mengirimnya
ke rumah sakit, ICCU lagi. Ya Rabb!
Kini aku sadar, permintaan Dian memang pada tempatnya. Aku tidak layak untuknya. Tiba-tiba
aku dicekam ketakutan. Takut bahwa Allah akan mengambil Dian karena aku tidak pantas
menerima anugerah-Nya. Tidak!
“Ya Allah… sembuhkanlah istriku Ya Allah. Aku sering menyakiti perasaannya… bahkan
sekarang menyakiti fisiknya. Ya Allah, berikan aku kesempatan menunaikan amanahku sebagai
suami dengan lebih baik… aku menyesal. Aku menyesal…”doaku meluncur tanpa bisa ku cegah.
Kutatap Dian lekat, berharap tanda-tanda kesembuhan menghampirinya. Sia-sia. Ia masih
tetap terpejam dengan napas tersengal dipompa jantungnya yang lemah. Air mataku menderas. Lagi.
Lain sakartum la azidannakum, falain kafartum inna’adzabi lasadzit… Ya Allah, seandainya
ini adzab, jangan dengan membuat istriku sakit Ya Allah. Aku tidak tega melihatnya. terlebih
saat serangan jantungnya datang.
Bibir Dian tersengal mencari udara dengan desah nama Allah, membuatku makin didera rasa
bersalah. Aku tersenyum kecut. Menertawakan diriku sendiri. Bagaimana mungkin aku begitu
kejam menuntutnya bertaruh nyawa untuk memenuhi keinginanku sedangkan ia harus berjuang
untuk mempertahankan nyawanya sendiri? Bagaimana aku bisa untuk mengerti, sedangkan aku
tidak tahu diri? Layakkah seorang suami menuntut itu dan ini sedangkan aku belum banyak
memberi? Ironi.
Bang Fikar benar. Dian benar. AKu memang makhluk yang tidak tahu bersyukur kepada Allah,
karenanya aku juga tidak pandai berterima kasih kepada manusia. Menyedihkan.
***
Peristiwa itu begitu lakat di dalam ingatan. Dian sembuh seminggu kemudian. Aku tidak
perlu mengungkapkan semua kecamuk pikiranku karena Dian telah memaafkan, setelah melihat
perubahan sikap dan cara pandangku. Yang jelas, aku bersyukur karena Allah masih memberiku
kesempatan untuk tetap menjadi suaminya.
Aku dan Adi masih sering bertemu setelah itu. Istrinya sudah hamil lagi begitu anak
pertamanya berumur dua tahun.
“Istrimu sudah hamil lagi, Bim? A’la sekarang setahun, ya? Dulu si Farhan setahun, A’la
lahir. Kok sekarang tenang-tenang saja?”goda Adi.
Aku tersenyum, “Istri kita kan bukan mesin lho, Di. Dia juga butuh istirahat.Hamil dan
mengurus anak itu memerlukan energi besar. Anak kita juga butuh perhatian dan susu cukup.”
“Yaa… kalau kuat kan nggak papa. Sepuluh, Bim! Sepuluh!”seru Adi.
Aku tertawa lirih. Kalau sepuluh orang itu menjadi penegak kalimat-Nya, memang luar biasa.
Tapi bila sebaliknya? Aku berharap, meski cuma dua, semoga nilainya di mata Allah tidak
berbeda. Lagi pila, masih banyak bentuk ibadah lain yang bisa membuat Allah menurunkan
rahmat-Nya kepada kita. Menjadi suami yang baik misalnya, seperti yang sekarang tengah
berusaha kuperankan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s