Menjemput Bidadari

kisah ini saya ketik ulang dari buku menjemput bidadari karya Nurul F. Huda berjudul Menjemput Bidadari

Dua tangan saat itu masih menggenggam. Tatapan mereka mengarah pada satu titik, yaitu seseorang berbaju putih, berkerudung, dan berkacamata. Dokter Nia, Sp.OG
“Well, saya harus menyampaikan kabar yang mungkin tidak terlalu menyenangkan, tetapi bagaimanapun, saya berharap kalian tidak berhenti berusaha,” ungkapnya.
Dokter itu menghela napas, “Citra, you’re normal, sehat, dan secara teoritis, sangat bisa punya anak. It’s just about time,” mata Dokter Nia mengarah kepada pasien perempuan yang ada di hadapannya.
Wanita muda itu tersenyum melafalkan hamdalah, “Oh, syukurlah. Setidaknya dugaan bahwa saya tidak subur…”
“No… no. That’s not true. But, the problem is…” kini Dokter Nia melirik laki-laki berwajah bersih dengan jenggot tipis yang duduk di sisi Citra, “Hardi, I’m so sorry… saya harus katakan kalau… berdasarkan hasil pemeriksaan air mani Anda, tidak menemukan adanya sel sperma So…” Dokter Nia menunduk.
Citra dan Hardi bertatapan. Tidak ada sperma?”So… saya tidak mungkin melanjutkan keturunan saya, begitu? Hardi menyambung kata-kata Dokter Nia dengan getir.
Bibirnya bergetar. Citra menggenggam tangan suaminya dengan erat. Bukan semata untuk menguatkan Hardi, ia juga ingin menguatkan dirinya sendiri. Kenyataan ini benar-benar di luar perhitungan mereka.
“Mang Hardi…” bisik Citra parau.
Hardi tersenyum, pahit.
“Citra, Hardi… kalian berdua adalah sahabatku. Kita sudah sering bertemu sejak di kampus dulu. Kalian orang-orang baik. Great. Punya prestasi. Well, saya menyayangkan kalau kalian sampai tidak berketurunan,” Dokter Nia bergantian menatap keduanya.
Citramemejamkan mata, sejenak mengingat saat-saat masih menjadi mahasiswa. Nia di kedokteran, dia di MIPA, dan hardi di teknik. BEM menjadi tempat pertemuan beraktivitas. Aktif, cerdas, menonjol, itulah mereka.
“Tetaplah berdoa dan berusaha,” ucap Dokter Nia.
Citra tergagap, “Tapi… kata dokter…” ungkapnya seolah dibangkitkan dari mimpi buruk.
“Kalian masih memungkinkan mempunyai anak lewat bayi tabung,” ujar Dokter NIa.
“Bayi tabung?”kejut Hardi dan Citra berbarengan.
***
Azzospermia. Sebuah kenyataan yang tentu sangat pahit untuk laki-laki seperti Hardi. Semula, Citra menduga bahwa dirinya yang bermasalah. Selama setahun usia pernikahan mereka, ia tidak lelah kesana kemari untuk berkonsultasi. Normal.
Baru seminggu yang lalu Citra berhasil membujuk Hardi untuk memeriksakan diri. Hardi enggan, karena baginya, ini hanya soal waktu. Allah belum berkenan mengamanahi mereka seorang anak. Bujukan Citra berhasil setelah disertai sedikit aksi cemberut. Citra tahu, Hardi pasti akan mengalah. Hsilnya? Menyedihkan.
“Mas? Belum tidur?” Citra menghampiri suaminya yang tengah terpekur di tepi ranjang. Ia terbangun karena meraba sisi tempat tidurnya kosong. Jam menunjukkan pukul dua belas malam. Sepi. Dingin.
“Oh? Kamu terbangun, Dik?” Hardi salah tingkah.
Citra mendesah, ” Sejak pulang dari tempat praktik Dokter Nia, Mas tidak pernah tersenyum. Mas….”
Citra kaget. Tangannya yang tengah memegang pipi Hardi merasakan ada air di sana. Kontan dipeluknya laki-laki itu, “Mas… menangis?” tanya Citra parau.
Hardi berusaha untuk tegar. Tapi detik berikutnya, ia tergugu di pelukan Citra.
“Aku tidak berguna , Dik. Aku tidak akan bisa memberimu anak” desis Hardi.
“Ini bukan kemauan Mas. Ini cobaan dari Allah. Jangan menghinakan diri begitu. Mas Hardi baik, saleh, bertanggung jawab…” Citra tak bisa meneruskan kata-katanya.
Cukup lama keduanya larut dalam sentimental itu. Tidak ada lagi kata-kata yang bisa dikeluarkan kerena memang mereka tidak mampu. Pahit.
Citra berusaha untuk menekan sisi hatinya yang berontak, menuntut keinginan fitrah menimang anak. Ia tidak berani untuk membayangkan hari-hari sepi tanpa tawa dan tangis. Ruangan hampa tanpa canda dan tawa. Juga yang tidak akan terelakkan, perasaan iri melihat keluarga yang lengkap berketurunan. Oh, sungguh memilukan baginya. Terlebih, bila timbul desas-desus bahwa penyebab dari semua itu adalah kemandulan Citra. Padahal…
“Dik, seandainya saja perempuan boleh poliandri, Mas rela…”
“Mas! Jangan sebut itu! Allah menetapkan segala sesuatu semata-mata demi kebaikan,” Citra memotong kalimat Hardi dengan getas.
Hardi menunduk. Desah panjangnya mengisi sunyi malam,”Aku tidak ingin melihatmu menderita karenaku,” ungkap Hardi tulus.
Citra menggeleng. Diciumnya tangan Hardi berulang-ulang. Oh, Allah. Laki-laki ini begitu baik. Begitu saleh. Siapa pun yang ada didekatnya akan merasa nyaman. Bukan hanya Citra ayang merasakannya. Tetangga, teman, keluarga, bahkan mereka yang baru pertama kali berkenalan. Mengapa orang sebaik dia…? Citra menutup dialog batinnya. Ia juga tengah menggugat ketetapan Allah. Cukup! Hentikan!
“Mas, bukankah…masih bisa kita upayakan lewat bayi tabung?” usul Citra ragu.
Hardi tersenyum tipis. Ia menangkap keraguan istrinya, seperti juga dirinya.
“Bayi tabung mahal, kita harus menabung berapa lama? Uangnya?”
Citra terdiam sejenak. Penghasilan Hardi sebagai kontraktor, ditambah penghasilannya sebagai staf peneliti BATAN, pinjaman, sumbangan…?
“Kita hidup sesederhana mungkin, Mas. Pokoknya penghasilan kita diprioritaskan untuk itu. Kita tidak usah memikirkan yang lain,”Citra mulai semangat.
Hardi hanya tertawa kecil menyambut usulan istrinya, “Tidak usah memikirkan yang lain? Bagaimana dengan tanggung jawab kita sebagai donatur sebuah rumah yatim piatu? Orang tua asuh dua anak keluarga tak mampu? Infak? Sedekah? Bagaimana, Citra?”Hardi menatap dalam istrinya.
“Tapi… mempunyai anak juga ibadah…” Citra mencari alasan.
Hardi menggeleng, “Anak memang menjadi ladang ibadah, tetapi bisa juga menjadi kebun fitnah. Masih banyak ibadah lain yang bisa dilakukan tanpa mengorbankan banyak hal. Aku tidak bisa melakukannya, Dik,”Hardi berujar sedih.
Citra sudah menduga kalau suaminya akan mengatakan hal itu. Hardi tipe orang yang lebih suka mementingkan orang lain. Apalagi bila mereka dalam kesulitan.
Tapi aku ingin punya anak, jerit batin wanita itu.
“Aku… mau shalat. Ikut?” Hardi mengulurkan tangannya. Citra terdiam sebentar sebelum menyambutnya dengan senyum tertahan.
***
Hari-hari selanjutnya, Citra lebih melihat sosok seorang sufi pada diri suaminya. Senyum Hardi masih kerap terulas, meski matanya menatap sayu. Yang sangat berubah Citra rasakan, ibadah-ibadah Hardi di sepertiga malam menjadi semakin lama dan panjang. Dialog-dialognya dengan Allah semakin menghabiskan waktu. Lembar-lembar mushafnya lebih cepat berganti halaman. Bahkan di antara
kesibukannya mengurus tender, Hardi seolah berlomba dengan Citra untuk mengurus pekerjaan rumah tangga.
“Kenapa Mas lakukan ini semua… lain dari biasanya?” tanya Citra suatu ketika.
“Ini ladang amalku, Dik. Lagi pula… aku ingin Adik senang,” ujar Hardi.
“Mas… Citra sudah ikhlas kok kalau memang kita tidak bisa punya anak kandung. Citra sedang berpikir untuk mengasuh anak yatim. Insya Allah, nilainya di mata Allah tidak berbeda dengan mengasuh anak kandung, bahkan mungkin lebih. Toh, bukan keinginan dan pilihan kita bila Allah membuat Mas…” Citra urung meneruskan kalimatnya.
Hardi tertunduk. Citra memeluk punggung kekar di depannya.
“Maafkan Citra, Mas… Maafkan. Citra tidak menyalahkan Mas…”
Hardi menggeleng, berbalik, dan membalas pelukan istrinya. Ia ingin perihnya berkurang saat ia tahu bahwa Citra tidak menolaknya
“Aku tidak ingin menjadi laki-laki yang egios, Dik. Biarkan aku memikirkan sesuatu yang beberapa terakhir muncul di benakku,” bisik Hardi.
“Apa?” Citra ikut berbisik.
Hardi menggeleng, “Belum saatnya Adik tahu. Tapi satu hal yang bisa Mas katakan, semua untuk kebaikan kita bersama,” ujar Hardi.
“Itu saja?” tanya Citra penasaran.
Hardi mengangguk
Dua bulan lamanya Citra didera penasaran. Selama itu hanya melihat suaminya semakin tenggelam dalam kekhusyuan. Hanya senyum penuh sayang yang Citra dapatkan saat ia bertanya tentang rahasia yang dulu pernah Hardi sebutkan. Lalu, ketika saat itu tiba, Citra seperti terhempas dalam jurang penuh bebatuan.
“Tidak! Mengapa Mas tega melakukan ini semua? Mengapa? Mas pikir Citra ini apa? Perempuan tanpa hati? Seenaknya dipindah sana-sini!” teriak Citra kalap.
Hardi menghela napas. Ia sudah menduga kalau istrinya akan sangat-sangat terkejut.
“Dengar Mas baik-baik, Dik. Sejujurnya , Mas ingin kita tetap bersama, selamanya. Tetapi Mas tahu, pasti adik menginginkan untuk hamil, menyusui, mengasuh anak darah daging sendiri…. Dan Mas harus tahu diri. Karena itu… perceraian adalah jalan terbaik. Biarkan Mas melakukan apa yang terbaik yang Mas bisa berikan untuk dakwah ini. Sedangkan engkau, Dik. Tugas utamamu adalah menjadi ibu, pendidik utama dan pertama generasi penegak kalimat-Nya. Aku….” Hardi menyusutkan air yang melelehdi sudut matanya.
Citra tergugu.
“Kalau seorang suami, istrinya tidak bisa memberinya anak, dia boleh beristri lagi. Bagaimana dengan istri… bila suaminya yang… tidak bisa memberikan anak? Bagaimana, Dik? Dia tidak boleh bersuami lagi… kecuali jika suami pertamanya pergi… Sungguh, aku hanya ingin melakukan sesuatu yang menurutku pada tempatnya. Itulah bentuk keadilan yang bisa kuberikan,” jelas Hardi parau.
“Tapi… Citra… tidak mudah Mas menjalani pernikahan baru…” isak Citra.
Hardi mengangguk-angguk. Direngkuhnya Citra erat.
“Rahman laki-laki yang saleh, baik… bahkan mungkin jauh lebih baik daripada Mas. Mas tidak semena-mena melepasmu begitu saja, Dik. Mas sudah siapkan pengganti Mas. Seseorang yang akan membersamaimu membentuk keluarga sakinah, mawaddah, warahmah… dengan anak-anak di dalamnya tentu saja…”
“Bagaimana Mas tahu kalau… akan ada anak-anak…” Citra memutus kalimatnya.
“Insya Allah. Mas doakan. Lagi pula… dari faktor keturunan, dia OK, tidak ada masalah. Dan… aku sudah menemaninya periksa. Dia normal, sehat, dan yang jelas tidak azzospermia seperti aku. OK?” Hardi mencoba tersenyum.
“Mas!” Citra menggeleng.
Hardi menutup mulut istrinya dengan telunjuk. Diserahkannya sebuah amplop yang tadi sempat dicampakkan Citra. Amplop berisi biodata Rahman Abdullah, calon suami Citra pilihan Hardi, setelah nanti mereka resmi bercerai.
“Pikirkan dengan hati ikhlas, tenang, dan pasrah. Yakinlah, Dik. Apa pun nanti keputusan-Nya, itu yang terbaik buat kita. Jangan terlalu menuruti perasaan, apa lagi hawa nafsu yang dipenuhi bisikan waswas dari setan, ya?” Hardi menatap istrinya.
Citra terdiam lama.
“Mas Hardi mau kemana?” tanya Citra nyaris tanpa suara.
“Menjemput bidadari yang lain,” jawab Hardi.
Citra melepaskan pelukannya,”Apa? Apa maksud Mas?” teriak Citra tanpa bisa ditahan.
Hardi tertawa, “Jangan cemburu dulu. bidadari itu…”
Hardi menerawang. Desahan napas kerasnya terdengar berulang-ulang.
“Aku ingin berjihad di Afghanistan. Ya, meski cuma pernah di Menwa dan kepanduan, setidaknya aku punya azzam. Aku ingin jadi teroris he… he… istilah Amerika. Mudah-mudahan, Allah menikahkanku dengan salah satu bidadari-Nya. Ah, kok itu sih. Yang jelas, dengan apa yang ada padaku…. Aku ingin berfstabiqul khairat dengan kalian,” suara Hardi terdengar lebih tenang.
“Jihad? Afghanistan?” Citra terbelalak tak percaya. Jadi… segala persiapan ruhiyah dengan meningginya intensitas ibadah itu bukan karena pelarian kekecewaan? Bukan sekedar pengaduan atas semua ujian tapi dalam rangka persiapan jihad ke bumi Islam Afghanistan? Rabbi…
“Citra… Citra semakin mencintai Mas…” bisik Citra spontan.
Hardi membalas dengan senyuman.
***
Lima bulan kemudian. Citra menikah dengan Rahman, seminggu menjelang keberangkatan Hardi ke Afghan.
“Titip istri… eh, bukan, afwan. Jaga saudariku baik-baik, Man,” ucap Hardi saat menyalami mempelai pria.
“Insya Allah,” ucap Rahman penuh kesungguhan.
Di balik hijab, Citra menunduk menyembunyikan air matanya yang bergulir-gulir. Suara yang sangat ia kenal. Suara yang mungkin tak akan pernah lagi ia dengar.
Barangkali Mas Hardi memang tidak layak untuk manusia bumi. Ia lebih pantas mendapatkan bidadari, batin Citra perih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s