Moslem Engineer, Isyhadu bi ana muslimuun.

Bismillah.. dapat Pe eR dari ust. Kholili Hasib di acara KOPI (seKOlah Pemikiran Islam) yang diadakan 8 minggu secara terpadu oleh ITJ chapter Malang 😀

awal ikut sih biasa aja, karena gak tau apa yang bakal didapatkan, tapi niat itu bisa diluruskan bersamaan dengan proses kan.
asik sekali, Moslem Engineer.
Engineer yang Muslim.
Engineer berlandaskan Islam.

sdf

Isyhadu bi ana muslimuun

Isyhadu bi anna muslimuun, Moslem Engineer. itulah kata-kata yang tercetak di punggung jaket Lembaga Dakwah Fakultas Teknik (LDF) Al-Hadiid di Universitas Brawijaya.
Bangga menjadi seorang Muslim dan menyatakan bahwa kami adalah Engineer yang muslim.
Bagaimanakan Engineer yang Muslim itu? Apakah membaca Bismillah sebelum praktikum dan membaca Hamdalah setelahnya?
Engineer yang Muslim lebih dari sekedar Bismillah dan Alhamdulillah, ada pendidikan karakter Islam didalamnya.

Dunia Teknik memang keras tapi tak bersifat kasar, dibutuhkan karakter kuat untuk menjalaninya dan karakter yang kuat ini hanya bisa didapat dengan pendidikan yang Islami.
Banyak godaan didalam dunia Engineering, pendidikan dan karir. Lebih banyaknya kewajiban daripada waktu yang tersedia saat kuliah, ke-sunnah-an berdakwah, dan birrul walidain atau godaan bermain bersama teman-teman di kos misalnya. Memanipulasi data atau menerima uang ‘panas’ dalam dunia kerja Engineering juga merupakan sebuah ‘kewajaran’ yang dianggap biasa, tak akan mampu ditolak bagi seorang bermental lemah, lupa akan kewajibannya, lupa akan hal yang dipertanggung-jawabkan kelak.

Masih teringat pesan mentor pertama saya saat menginjak dunia teknik. Ketika air adalah amanahmu.
Di dunia teknik yang kami geluti hampir semuanya mempelajari air. Makhluk Allah yang unik ini sifatnya tetap hanya fisiknya yang berubah. Sedikit akan membawa petaka, banyak pun menjadi masalah.

Pendidikan Islam harus diterapkan dimana saja untuk menciptakan lingkungan Islami dan membentuk karakter berlandaskan Islam. Menggunakan Islam sebagai landasan berpikir dimana akan mempengaruhi tindakan, bukan hanya bertindak berdasarkan logika semata tapi memang karena perintah.

Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi seorang muslim, dengan berilmu kita bisa beramal, dengan beramal kita bisa meningkatkan ketaqwaan pada Allah Subhanallahu wa ta’ala.
Menuntut ilmu untuk memahami ayat-ayat Allah, bukan untuk hebat-hebatan, bukan untuk mebodohi orang lain.
Menuntut ilmu untuk mendapat ridho Allah dan selalu luruskan niat menuntut ilmu untuk mendapat ridho-Nya.

“Dunia dihuni empat ragam manusia. Pertama, seorang hamba diberi Allah harta kekayaan dan ilmu pengetahuan lalu bertakwa kepada Robbnya, menyantuni sanak-keluarganya dan melakukan apa yang diwajibkan Allah atasnya maka dia berkedudukan paling mulia. Kedua, seorang yang diberi Allah ilmu pengetahuan saja, tidak diberi harta, tetapi dia tetap berniat untuk bersungguh-sungguh. Sebenarnya jika memperoleh harta dia juga akan berbuat seperti yang dilakukan rekannya (kelompok yang pertama). Maka pahala mereka berdua ini adalah (kelompok pertama dan kedua) sama. Ketiga, seorang hamba diberi Allah harta kekayaan tetapi tidak diberi ilmu pengetahuan. Dia membelanjakan hartanya dengan berhamburan (foya-foya) tanpa ilmu (kebijaksanaan). Ia juga tidak bertakwa kepada Allah, tidak menyantuni keluarga dekatnya, dan tidak memperdulikan hak Allah. Maka dia berkedudukan paling jahat dan keji. Keempat, seorang hamba yang tidak memperoleh rezeki harta maupun ilmu pengetahuan dari Allah lalu dia berkata seandainya aku memiliki harta kekayaan maka aku akan melakukan seperti layaknya orang-orang yang menghamburkan uang, serampangan dan membabi-buta (kelompok yang ketiga), maka timbangan keduanya sama.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

Imam Al Khatib Al Baghdadi berkata: Seorang penuntut ilmu hendaknya menjadikan urusan-urusan kehidupannya berbeda dengan kebiasaan orang-orang awam, dengan selalu berusaha mengamalkan hadits-hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam (dalam setiap urusannya) semaksimal mungkin dan menerapkan sunnah-sunnah Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam dirinya, karena sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla berfirman:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu” (QS. Al Ahzaab: 21)

Bangga Menjadi Seorang Muslim
Apa yang akan dilakukan seorang pemenang akan prestasi yang berhail didapatkannya?
tentunya ia akan mempertahankan prestasinya, meningkatkan kemampuannya, bahkan bersaing dengan dirinya sendiri.
Seperti itulah muslim yang bangga akan ke Islamannya, dia akan berusaha sekuat hati menjaga Imannya, menjadikan Rosul sebagai teladannya, dan bergantung sepenuhnya pada Allah Subhanallahu wa ta’ala,

Apakah bangga menjadi seorang pemenang dengan segudang prestasi?
Memang siapa yang tak bangga akan segudang prestasi?
Patut (dan memang seharusnya) kita sudah bersyukur akan ni’mat kehidupan yang Allah beri, ni’mat dijadikannya kita manusia yang memiliki banyak keunggulan dibanding makhluk Allah lainnya, ni’mat akal yang Allah berikan, dan yang paling penting adalah ni’mat hidayah.
Karunia yang tak ternilai. Ni’mat yang begitu lezat. Ni’mat iman.

Suatu ketika Salman Al-Farisi radhiyallahu anhu ditanya, ”Keturunan siapa Kamu ?” Salman yang membanggakan keislamannya, tidak mengatakan dirinya keturunan Persia, tapi ia mengatakan dengan lantang, ”Saya putera Islam.” inilah sebabnya Rasulullah saw mendeklarasikan bahwa, ”Salman adalah bagian dari keluarga kami, bagian dari keluarga Muhammad saw.”

Muslim Engineer, Muslim Scientist
Saat masa keemasan Islam, saat itulah banyak ilmuwan ilmuwan Muslim memberikan kontribusi pengetahuan pada dunia. Mulai dari Al-Khawaritzmi hingga Ibnu Khaldun. Semuanya Ilmuwan muslim, hendaknya kita juga meneruskan ilmu yang telah mereka ajarkan kepada anak cucu tentu saja dengan tidak melupakan tujuan belajar Ilmu tersebut.
Kita adalah umat Islam yang mewarisi sejarah ilmu, umat yang mewarisi AlQur’an dan Hadits, maka hendaknya kedua warisan tersebut bukan saling meniadakan. Jadikan Qur’an dan hadits sebagai landasan berilmu.

Tuntutlah ilmu, sesungguhnya menuntut ilmu adalah pendekatan diri kepada Allah Azza wajalla, dan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sodaqoh. Sesungguhnya ilmu pengetahuan menempatkan orangnya, dalam kedudukan terhormat dan mulia (tinggi). Ilmu pengetahuan adalah keindahan bagi ahlinya di dunia dan di akhirat. (HR. Ar-Rabii’)

Janganlah kalian menuntut ilmu untuk membanggakannya terhadap para ulama dan untuk diperdebatkan di kalangan orang-orang bodoh dan buruk perangainya. Jangan pula menuntut ilmu untuk penampilan dalam majelis (pertemuan atau rapat) dan untuk menarik perhatian orang-orang kepadamu. Barangsiapa seperti itu maka baginya neraka … neraka. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Bila kita memiliki kewajiban untuk mensyukuri ni’mat Iman yang Allah berikan, maka kita harus bangga dengan Islam. Istiqomah dengan ajaran Islam dan mengamalkan ajaran Islam. Menjadikan Islam sebagai landasan berpikir, landasan beramal serta menjadikan Islam sebagai gaya hidup dalam segala aspek.
Mari kita jadikan Islam mendarah daging. Di Islam ada rahasia kemuliaan dan kejayaan. Implementasikan Islam dalam segala aspek. Banggalah menjadi muslim. Karena bisa jadi kemunduran umat Islam karena pudarnya kebanggaan menjadi muslim. Wallahu’alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s