Berapa Yang Kita Miliki?

Dahulu sekali, sebut saja beberapa ratus tahun yang lalu ada sebuah kerajaan Tak Bernama dengan ditengah antah berantah, dikelilingi gurun pasir seluas Sahara, bayangkan saja setting yang selalu muncul pertama kali ketika terdengar kata ‘Timur Tengah’. Teriknya matahari dikala siang, dinginnya rembulan dikala malam, gurun pasir, onta, pepohonan yang hampir mati, oasis, atau apalah.

Negri Tak Bernama itu memiliki seorang raja, boleh juga disebut sultan dalam setting kebudayaan timur tengah, yang bernama Fulan. Seorang Sultan bertangan besi, tak ragu menghukum siapa saja yang bersalah meskipun keluarganya sendiri. Tapi jangan salah sangka, pemimpin bertangan besi inilah yang diperlukan setiap masyarakat, dan disinilah terletak kebijaksanaan Pemimpin Bertangan Besi.

Diam-diam, sang sultan meski bijaksana tapi juga suka berpesta, mengadakan pesta besar disetiap tengah bulan, dimana uangnya dihamburkan untuk berpesta, membeli makanan ini dan minuman itu untuk disajikan kepada tamunya yang terdiri dari para kaum dhuafa.

Suatu hari saat pesta sedang berlangsung dilihatnyalah seorang peserta pesta yang sedang mengambil minuman yang berpakaian paling bagus diantara kaum dhuafa, sorban hijau dengan dua tambalan serta baju dengan beberapa jahitan. Jangan salah sangka, sang sultan bukannya mengenakan pakaian kebesaran sebagai sultan melainkan dia juga mengenakan pakaian sederhana bahkan layaknya seperti kaum dhuafa supaya dia bisa berbaur tanpa dipandang.

Sang sultan mendekati pria berbaju bagus tersebut dan mengenalinya sebagai pedagang kaya dari kota sebelah.

“Wahai kawan, bagaimana menurutmu pesta yang diadakan sultan Fulan?”tanya sultan pada pedagang.

“Semoga Allah memberkahi umur dan hartanya, semoga anaknya menjadi penuntun di akhirat kelak”jawab pedagang tersebut.

“Lalu bagaimana dengan engkau? siapa engkau?”

“Aku hanyalah pedagang keliling dari kota seberang, aku kemari baru sekali ini saja, kebetulan aku lewat dipasar dekat sini dan kulihat ada pesta untuk para dhuafa”

“kulihat pakaianmu bagus, apa yang kau perdagangkan wahai kawanku?”

“hanya beberapa kain dan sedikit pakaian jadi”

“berapa usiamu?”

“baru tiga puluh tahun”

“berapa anakmu?”

“hanya satu”

“berapa jumlah hartamu?”

“tiga peti uang emas”

“kau berbohong! aku mengenalimu! engkau adalah pedagang kaya dari kota sebelah dan kau bukan berdagang kain atau pakaian!”sentak sang sultan “Penjaga! hukum pembohong ini!”

“Aku tidak berbohong, sultan”

“Jelas kau berbohong, kau adalah pedangang perhiasan dari kota seberang, umurmu tujuh puluh tahun, anakmu 5 orang, dan hartamu sebanyak tiga ribu peti uang emas”

“Saya kira anda salah mengira, umurku memang tujuh puluh tahun tapi hanya tiga puluh tahun aku gunakan untuk beribadah, anakku memang ada lima namun hanya satu yang berbakti, hartaku memang tiga ribu peti uang emas namun hanya tiga peti yang aku amalkan, dan saya dahulu memang pedagang perhiasan setelah saya bertaubat tiga puluh tahun lalu saya pikir berdagang kain kafan lebih bisa mengingatkan banyak orang tentang kematian daripada perhiasan”

Tak terkira memang, orang yang begitu kaya dan memiliki anak banyak ternyata merasa miskin di dunia, bukan karena harta melainkan karena amalnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s