Nikmatnya Menikah setelah Pacaran (???)

Hah? nikmatnya menikah setelah pacaran? gak salah tuh?

Good, I had your curiosity, but now I have your attention.
Saya awali saja dengan cerita tidak nikmatnya menikah setelah pacaran.

Sore itu saya bertemu dengan kedua sahabat saya, katakanlah A dan B, mereka berdua sudah menikah tentunya dengan wanita yang berbeda sedangkan saya masih jomblo, dan si A sudah dikaruniai seorang anak, anehnya mereka kepingin bertemu bertiga cuma sharing soal masalah asmara lebih tepatnya rumah tangga, aneh bukan, harusnya saya nggak masuk dalam barisan Pria Berrumah Tangga.

Cerita dari Si A:
Saya agak menyesal, agak, karena memang ada enaknya kala itu, tapi saya menyesal dulu pernah pacaran.
Kalian tahu saya dapat anak pondokan, sempat 5 tahun sepondok jadi chemistry-nya itu ada.
dia sebenarnya kawan saya pada awalnya tapi kok uenak sekali diajak ngobrol, selalu nyambung, saya juga nggak pernah nembak dia dan diapun demikian, kita selalu jaga jarak seperti nggak menelpon kalo nggak bener-bener perlu, sms pun juga nggak sesering kalau orang pacaran palingan cuma nanya soal2 nggak penting. Palingan tanya ini atau tanya itu, lah? podo wae yo?. Intinya, kala itu saya tertarik sama dia meski saya nggak tau dia tertarik sama saya atau enggak, tapi kalau boleh saya berasumsi dia juga tertarik sama saya.
Pas dekat sama dia saya pun berasumsi ini adalah ‘hubungan yang islami’ orang-orang bilang ini ‘pacaran islami’. Kita bertemu juga sebulan belum tentu, kalau pun ketemu itu juga sama temen-temennya jadi kita nggak pernah berduaan kecuali (dia memberikan tekanan) pas telpon atau sms, dan kita pertama kali pegangan tangan itu pas foto di akad nikah.
Nah menariknya disini, setahun setengah menikah sama dia kok saya ada perasaan bosan ya? umur pernikahan kami belum sepanjang umur ‘pacaran islami’ kami.
Saya ngerasa kalo perhatian dan gombalan yang secara nggak intensif yang saya berikan ke dia itu kayaknya sudah habis di masa sebelum kami menikah. Renyahnya gombalan yang saya kasih pas jadi istri saya itu kayaknya mlempem, nggak serenyah waktu dulu.
Terkadang gombalan yang saya lontarkan itu rasanya garing, basi, gombalan yang pernah dulu saya keluarkan kali ini saya keluarkan lagi.
Apalagi saat dia nanya pas saya dikantor atau di lapangan “say, sudah makan?”, kayaknya bosan, saya cuma mbatin “dari dulu tanya nya sudah makan apa belum”. Kayaknya lagi perhatian yang dia kasih juga seakan-akan sudah basi ditelinga saya, sudah kebal.
Saya ngerasa nggak ada yang beda saat kita belum nikah maupun pas kita sudah nikah.
Bro, kamu yang masih belum nikah usahakan jangan sampe kayak saya, merasa bosan dalam berumah tangga, kalo bisa tiap hari ada misteri baru dari istrimu yang terungkap.

Cerita dari Si B:
Persis kayak aku.. aku juga merasa ada kebosanan dalam rumah tangga, padahal baru setengah tahun lalu nikah, tapi sori, aku bukan anak pondokan yang punya segudang ilmu, siapa aja wanita yang nggak boleh disentuh, bagiku dulu, sentuhan aja nggak apa asal nggak sahwat, goncengan juga gak masalah toh ketutupan kain. Dulu emang kita pacaran, berduaan, kadang bertigaan sama adiknya yang paling kecil, nonton bioskop, ke mall, atau sekedar makan di warung tegal.
Saya nembak dia mengiyakan. Pegangan tangan bagi kami kayaknya hal yang lumrah. Gombalan yang terucap juga sangat mudah, dikit-dikit merayu. Sedikit-sedikit tanya kabar atau tanya soal makanan faforit.
Tapi sekarang, saya sekedar mau tanya “sudah makan apa belum” aja beratnya setengah hidup. Sama.. kayaknya ada hal yang hilang, gombalannya mlempem. Kayaknya sekarang itu statis, monoton.
Serasa pas habis nikah itu nggak ada lagi misteri yang harus diungkap.
Pas pegangan tangan habis akad itu juga rasanya nggak ada yang ‘nyetrum’, kayaknya setrumnya ilang kebanyakan dipake. Jadi emang bener bro kata si A, kalo bisa kamu jangan pacaran, bahkan jangan ‘pacaran yang islami’ kayak dia nanti bisa jadi di kehidupanmu nggak seru lagi. Sudah tau seluk beluk istrimu. nggak enak.
Kita ngajakin ngumpul emang bukan curhat, kita nggak mengharapkan kamu punya solusi untuk kita berdua, lha wong kamu masih jomblo.

Saya:
okelah bro, tengs. saya bisa belajar dari pengalaman kalian berdua, saya usahain nggak pacaran. nanti kalo saya nikah kalian harus datang. dan nanti saya bisa kasih cerita tentang Asiknya Menikah Tanpa Pacaran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s