Ini kan Indonesia!

Banyak hal yang menarik yang bisa kita petik dari film berjudul Where To Invade Next garapan Michael Moore, sebuah film dokumenter dari sudut pandang seorang Amerika mengenai hal-hal yang bagus buat mereka. Ingat, film ini berdasar sudut pandang seorang Amerika, jadi bisa jadi hal-hal yang baik bagi mereka belum tentu baik untuk kita, tapi bolehlah kita bandingkan dengan negara kita, Indonesia.

Seperti halnya di Italia, mereka punya 30-35 hari libur dalam setahun diluar hari Minggu, sedangkan Hari libur Nasional mereka punya kurang lebih 12 hari, ada juga hari libur Saint Patron yang dirayakan berbeda di tiap-tiap kota. Belum lagi ada ‘bonus’ yang diterima oleh pegawai wanita jika mereka adalah pengantin baru, mereka berhak mendapat 15 hari libur untuk berbulan madu PLUS total 5 bulan cuti pra dan pasca melahirkan. Sedangkan untuk bulan Agustus, mereka mendapat 31 hari libur musim panas.

Lebih gila lagi seluruh liburan-liburan tersebut merupakan liburan gratis alias uang gaji yang mereka terima tetap utuh. kegilaannya belum sampai disini, jika hari libur reguler tersebut tidak diambil atau tidak habis tahun ini, maka bisa disimpan di bank liburan yang bisa diambil di tahun-tahun berikutnya. Hal-hal tersebut juga diatur di undang-undang. Oh, jangan lupa dengan gaji ketigabelas yang juga mereka punyai di akhir tahun serta 2 jam waktu istirahat makan siang.

Dari sudut pandang pemilik perusahaan ternama seperti Lardini, mereka tidak keberatan akan hal itu bahkan mereka katakan itu adalah hak para pekerja supaya tidak stress dan lebih produktif dalam bekerja. Sedangkan pimpinan perusahaan Ducati berkata bahwa tidak ada hal yang bertentangan antara keuntungan perusahaan dengan perlakuan baik terhadap pekerja-pekerja mereka.

Bagaimana dengan Indonesia? Di Indonesia, kita punya kurang lebih 16 tanggal merah selain minggu (dan sabtu), beberapa perusahaan juga mengizinkan pekerjanya untuk mengambil beberapa hari cuti setelah menikah dan mungkin sekitar 3 bulan cuti (tetap dibayar) pasca melahirkan. Bagaimana dengan bulan Agustus? Kita tidak punya liburan musim panas, yah kita semua tahu mengapa. Rata-rata, perusahaan memberikan hak 1-2 hari cuti tiap bulannya serta beberapa hari ‘cuti bersama’ tiap tahunnya. Lalu bagaimana dengan cuti yang tak terpakai? Berdasarkan pengalaman pribadi, ada perusahaan yang menghanguskan cuti yang tak terpakai tapi ada juga perusahaan yang mengganti hari cuti tak terpakai dengan Rupiah. Itu hari-hari libur yang tertulis, entah seberapa banyak para pekerja yang ‘memotong’ jam kerjanya, datang terakhir dan pulang lebih cepat, dan diantara jam-jam tersebut waktunya tidak produktif. Menggelikan lagi, ada sebagian dari mereka ‘hanya’ bekerja di penghujung jam pulang, jadi kerjanya hingga melampaui jam kerja dan bisa dianggap sebagai jam lembur. Namun dibalik itu semua, beberapa perusahaan maupun kantor pemerintahan masih memberi gaji ketigabelas plus THR.

Bagaimana dengan Jerman? Sebagai contoh, pabrik alat tulis ternama, Faber Castell, punya jam kerja yang cukup singkat,yaitu sekitar 36 jam seminggu. Mereka juga punya organisasi seperti Serikat Pekerja-nya Indonesia. Ada juga aturan untuk tidak mengganggu karyawan diluar jam kerja apalagi karyawan yang sedang liburan, hampir bertolak belakang dengan budaya kerja di Indonesia bukan? seberapa banyak dari kita yang justru dapat panggilan telepon atau email tentang pekerjaan saat kita liburan?

Sedikit tentang  Perancis, mereka punya kantin setara restoran bintang tiga, para murid tidak perlu mengantri untuk makan siangnya, sang koki yang akan mengantarnya sendiri pada mereka, setiap hari mereka punya keju dalam menunya.

Lain halnya dengan Finlandia yang mengklaim dirinya sebagai negara nomor wahid dalam hal pendidikan. Fakta yang sudah umum diketahui, sekolah-sekolah tidak memberikan PR bagi murid-muridnya supaya para murid punya waktu luang untuk bermain atau sekedar bersama teman atau keluarga.

Dalam kertas ujiannya, mereka sangat sedikit sekali memiliki lembar jawaban pilihan ganda (dimana hal itu justru opsi favorit di negara kita) jadi untuk dapat nilai seratus mereka harus mengetahui jawabannya bukan ‘cap cip cup kembang kuncup’.

Mereka juga tidak punya semacam Ujian Nasional, namun bagaimana untuk mengetahui mana sekolah yang terbaik? Seperti di Indonesia, biasanya sekolah terbaik dirangking dari nilai akhir para siswanya di Ujian Nasional atau persentase kelulusan. Jadi bisa dikatakan semua sekolah di Finlandia semua sama bagusnya. “Apakah termasuk sekolah swasta?”. Undang-undang di Finlandia melarang sekolah-sekolah menarik berbagai macam iuran alias SPP, maka sudah bisa dipastikan tidak ada sekolah swasta disana dan juga mereka tidak menjadikan pendidikan sebagai ajang bisnis. Terdengar familiar? hehehe…

Lalu apa yang bisa kita pelajari dari Slovenia? Biaya pendidikan di Slovenia mirip dengan Finlandia. Saat pemerintah mulai menarik biaya untuk pendidikan di jenjang perguruan tinggi, para siswa langsung membentuk sebuah gerakan dan turun protes ke jalanan. Sesederhana itu.

Ah, andaikan masyarakat Indonesia bisa mengambil secuil kebaikan budaya kerjanya, perusahaan untuk, pekerja pun makmur… Sayangnya sebagian dari masyarakat kita tidak suka dibandingkan negaranya dengan negara lain, “Ini kan Indonesia!” kata mereka.

Selanjutnya, saya nggak berani banyak berkisah tentang negara lainnya seperti Portugal dan Tunisia yang melegalkan Narkoba atau Aborsi yang jelas tidak baik untuk negeri Garuda ini.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s