Perlukah Ikut Jobfair?

Jobfair atau Career Expo sepertinya sudah menjadi barang tentu yang setiap tahun diadakan, selain banyak acara talkshow juga menjadi ajang perburuan lahan pekerjaan bagi (sebagian besar) Fresh Graduate, angin segar yang berhembus dimasa pasca sidang tugas akhir atau menjadi hawa panas di masa-masa skripsi yang tak kunjung usai.

Ribuan lulusan muda yang (lebih banyak) tidak punya pengalaman kerja dibidangnya berdesak-desakan, menginjak, menyikut, menikam hingga meludahi… oke terlalu berlebihan… berdesak-desakan ingin tahu apa sih Jobfair atau Career Expo itu? Ada apa didalamnya? Ada perusahaan bonafit apa yang datang dan menggelar ‘lapak’?

Lembar Riwayat Hidup pun segera diperbarui. “Pernah menjadi anu dan inu”, pernah magang di sana dan di sini”, “pernah ikut kursus ini dan itu”. Kurang lebih seperti itu isinya. Dipoles hingga mengkilap berharap lembar tersebut ada yang tertarik, setidaknya ada yang sekedar melirik.

“Layaknya menjual murah barang” itulah yang dikatakan kawan saya, “sebar CV sana sebar CV sini, maklum belum tahu mau kerja dimana, mau berkarir di jalur apa nantinya”

Tapi bagi para peserta yang sudah memiliki pengalaman kerja ataupun berorganisasi, akan pilih-pilih pekerjaan, mereka setidaknya sudah tahu mau berkarir di jalur apa, mau jadi apa nantinya, terlebih mereka sudah punya pengalaman; kerja itu seperti apa sih?

Jika kemarin ada yang bertanya pada saya, “berapa kali ikutan jobfair?”, nol. Itulah jawabannya. Bukan bermaksud merendahkan, hanya saja saya punya sedikit pemikiran yang bisa dikatakan berbeda.

Dalam pikiran saya, penawar pekerjaan yang ada di ‘lapak’ didalam Jobfair itu adalah pihak ketiga, mereka hanya menjalankan tugas dari perusahaan yang sebenarnya, dan berbicara ‘hanya menjalankan tugas’ maka akan ada banyak hal yang tidak mereka mengerti, apa produk yang ditawarkan dan berapa harganya.

Analoginya, anda punya produk kecap dan meminta saya untuk menjualkan, anda bandrol satu botol kecap dengan harga 2 juta, kemudian ada pelanggan yang mau membeli sebotol kecap dengan satu koin uang dinar (uang emas) sedangkan saya tidak tahu harga koin tersebut berapa maka jelas saya tolak sembari bilang “dua juta atau tidak sama sekali”, padahal satu dinar harganya lebih dari dua juta dan saya menolak karena ketidak-tahuan ATAU kepatuhan saya pada anda. Kurang lebih seperti itu jika kita melamar kerja lewat pihak ketiga.

Namun tidak semua pihak ketiga seperti itu, banyak juga pihak ketiga yang lebih berpengalaman dibidang sumber daya manusia yang juga melakukan riset-riset mengenai perusahaan dan bergelut dibidang sumber daya manusia. Hampir bisa dipastikan jika melamar pekerjaan lewat pihak ketiga yang kualitasnya lebih tinggi tersebut kita akan merasakan orang-orang yang lebih memilih satu dinar daripada dua juta rupiah.

Tapi, jika sekarang ada yang bertanya pada saya, “berapa kali ikutan jobfair”, satu. Itulah jawaban saya.

Ada sebuah pengalaman menarik ketika hari Sabtu (20/8) kemarin ke sebuah perguruan tinggi di kota Lautan Api, puluhan lowongan ditawarkan mulai dari BUMN hingga swasta, ada juga satu perusahaan yang belum saya pernah dengar sebelumnya, manufaktur ban motor.

Ketika itu saya dan kawan saya datang -kalau bukan karena ada BUMN yang juga buka lapak di jobfair tersebut pastilah saya juga nggak akan datang- dengan tampang memelas kita serahkan CV dengan kolom pengalaman kerja yang cukup banyak untuk validasi berkas dan si mbaknya hanya baca fotokopian transkrip nilai, TEKNIK PENGAIRAN, itulah yang dibaca, lalu mbaknya bilang “oh pengairan ya mas, kita carinya yang sipil”

ANEH…. batin saya

“Lho mbak, pas upload berkas di internet kok ada jurusan pengairannya? berarti bisa dong, ada tuh di situsnya” saya bilang

“maaf mas, tapi kita butuhnya yang sipil”

“oh gitu ya mbak, tapi pengairan itu sipil juga lho” kata saya

“kita carinya yang sipil mas” kata mas-mas temennya si mbak-mbak

“oo gitu ya mas, kalo sipil, sipilnya sipil APA, mas?” kata saya, ngetes

mas-masnya menjawab “sipil yang di proyek”

WHAT THE….. HUH? REALLY? Seriusan? “sipil yang diproyek”??? waw, jawaban yang menggemparkan. ((sipil yang diproyek))

mendengar jawaban yang seperempat lucu itu saya setengah tertawa, “lho mas, maksudnya sipil itu kan cabangnya banyak, ada jalan, gedung, keairan, lha trus yang dicari sipil yang mana?”

“ya pokoknya sipil mas” kata masnya

“jadi semua sipil mas?” tanya saya

“iya semua sipil” jawab masnya

“pengairan juga sipil mas” kata saya

“tapi kita carinya yang sipil”jawab masnya lagi

Kemudian saya sadar, kondisi seperti ini bisa bisa jadi ‘diskusi’ tak berujung hingga jutaan tahun kedepan, secara dia tidak paham sipil itu apa dan jenisnya apa saja.

“jadi semua sipil kecuali pengairan ya mas? oke, terimakasih MBAK” tutup saya mengucapkan trims pada mbak-mbaknya sambil melipir.

8 jam penantian berujung kecewa, kawan saya sudah kehilangan mood, ah daripada saya nggak dapat apa-apa disini, lalu saya coba ke lapak BUMD yang baru saya tahu ada BUMD dengan nama tersebut. Sebelum mengantri, saya tanya ke meja resepsionis “mbak, kalau pengairan bisa ikut nggak?”

mbak nya menjawab “kalau gitu itu em… lebih ke SPAM (Sistem Penyedia Air Minum) ya mas? bisa kok mas, silahkan isi formnya”

“oke mbak, terima kasih” kata saya

nah ini nih, pihak ketiga yang ngerti.

Flashback sekitar Februari 2016, saya juga coba-coba melamar ke sebuah perusahaan BUMN yang membuka lowongan lewat pihak ketiga, namun pihak ketiga ini amat bagus track recordnya, mereka adalah perusahaan yang bergelut dibidang pengorganisiran sumber daya manusia. Saat itu yang dicari lulusan sipil juga, waktu daftar juga lewat online bahkan tidak ada pilihan secara khusus jurusan teknik pengairan, ada kolom pengalaman pekerjaan juga, itulah yang juga dipertimbangkan, bukan sekedar lulusan apa.

Sekedar pembelajaran bagi saya, boleh saja melamar pekerjaan bahkan melalui pihak kelima pun tapi kita juga patut mengetahui siapa pihak-pihak tersebut, bagaimana track recordnya, apakah kompeten dibidangnya atau sekedar “melaksanakan tugas” saja. Hal-hal yang seperti ini seakan sudah menjadi  setengah hak kita untuk tahu, sebelum diri kita dinilai orang lain kita juga patut menilai orang yang akan menilai kita.

Jadi, perlukah ikut Jobfair?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s