Kisah Jenaka dari Negeri In-Dongeng-Sia

Masyarakat di negeri dongeng menjadi saksi hidup sejarah hari ke-308 di tahun ke-71 lalu, bagaimana jutaan massa bisa berkumpul di satu titik, bukan karena golongan atau sebuah konser musik melainkan karena penuntutan keadilan.

Iklim sosial di Negeri Dongeng pada kuartal ketiga akhir tahun tersebut cukup mengagetkan, dipicu dari Si Sipit Bermulut Kotor yang kala itu (konon) memberikan kuliah tentang budidaya Naga Laut namun yang keluar malah penghinaan pada salah satu kepercayaan di Negeri Dongeng.

Bukan hanya hari itu, hari-hari sebelumnya bahkan bertahun-tahun sebelumnya Si Sipit Bermulut Kotor juga sudah bikin ulah yang meresahkan, memecah kesatuan bangsa Dongeng. Pernah suatu waktu saat Si Sipit Bermulut Kotor sedang diwawancarai oleh wartawan kawakan yang disiarkan langsung oleh sebuah ‘Satelit Swasta’ untuk seantero tata surya tiba-tiba mulut kotornya berulah, isi perut pun keluar, alhasil si Satelit Swasta tersebut diganjar peringatan dari ‘Asosiasi Penyiaran se-Tata Surya’ atas kesalahan yang bukan dibuatnya. Anehnya menurut Asosiasi tersebut perkataan kotor harusnya bisa di antisipasi oleh Si Satelit Swasta dan ganjaran peringatan itu tidak dilayangkan juga pada Si Sipit Bermulut Kotor itu. Tak ada yang menduga memang bahwa pejabat tinggi yang seharusnya menjadi contoh itu malah secara ajaib mengeluarkan ‘jurus’nya

Lebih dari 60 tahun Negeri Dongeng merdeka, lebih dari 5 kepercayaan yang diakui Negeri Dongeng dan semuanya hidup berdampingan saling menghargai dan bertoleransi, namun ketenangan jutaan rakyat Negeri Dongeng selama puluhan tahun itu dirusak oleh mulut kotor seorang.

Kembali ke pergerakan massa, para ‘Jubah Putih’ se-Negeri Dongeng tumpah di ‘Tanah Batawjo‘, tuntutannya hanya satu, tangkap penista kepercayaan.

Kelambatan pun terjadi di tubuh instansi “Pengayom dan Pelindung”, mereka baru bergerak ketika ada yang protes. Mulai dari mendatangkan para ahli, dari ahli sastra yang keduluan dipanggil Yang Maha Kuasa hingga Orang Berilmu dari luar planet yang tidak mengerti bahasa Negeri Dongeng maupun akar permasalahan, serta ahli psikologis untuk membaca niat si Sipit Bermulut Kotor tersebut.

Rupanya rezim di Negeri Dongeng kali ini meniru pemerintahan sebelumnya, seakan-akan calon pejabat itu kebal hukum, maka ia dilepaskan meski statusnya sudah tersangka dengan beralasan jangan sampai hal ini digunakan untuk menjegal pasangan calon (di benua) lainnya.

Masih segar di ingatan masyarakat Negeri Dongeng ketika terduga pemberontakan dan terorisme dieksekusi di tempat, ditembak mati tanpa ditangkap dan diintrogasi oleh Tentara Bayaran Planet Marsupial. Adilkah? Atau penista kepercayaan lain yang klaim oleh ‘Orang Berilmu Negeri Dongeng’ sebagai aliran sesat seperti Avatar  dan Kerajaan Tuhan yang ditangkap setelah statusnya naik menjadi tersangka?

Bukan tidak aneh, massa yang sebegitu banyak itu tidak ditemui oleh Si Kurus yang kebetulan menjadi orang berpangkat tertinggi di Negeri Dongeng, yang katanya waktu itu sedang inspeksi sebuah proyek stasiun Antar Galaksi, sebuah kesibukan yang justru bisa dilakukan oleh menteri-menterinya.

Seperti orang ketakutan, beberapa hari setelah pergerakan massa akhirnya Si Kurus itu mendatangi berbagai elemen masyarakat dan instansi seperti Penjaga Perdamaian Planet, Partai Politik, bahkan pesaingnya dua tahun silam dengan mengangkat isu Persatuan.
Mungkin seperti pemadam kebakaran amatir yang menyingkirkan asap tanpa memadamkan api.

Tangan-tangan latah pun ikut bergerak, orang-orang yang kemarin menyumpahi agar hujan deras bahkan hujan asam pada hari ke-308 di tahun ke-71 tersebut turun jalan dengan mengangkat isu yang sama, sambil berhujan-hujan dan merusak tanaman. Tak lupa spanduk digital pun disebar, “kita semua bersaudara” dan “jaga persatuan” dan lain-lain adalah jargon andalan mereka.

Sebuah isu Rush Gold pun muncul, belakangan diketahui adalah keisengan seseorang di media sosial yang kemudian ditangkap karena menyebar isu. Panik, pejabat pun minta masyarakat supaya tidak menarik emas mereka dari Bungker, sungguh larangan yang aneh, kenapa rakyat Negeri Dongeng diminta untuk tidak bernapas sekalian.

Tumbal pun dimunculkan, salah satu pengunggah Rekaman Bergambar dan Bersuara yang dipermasalahkan juga ditersangkakan karena teks yang kurang satu kata meski artinya masih sama. Tindakan pengelakan pun dilakukan oleh penuntut, tumbal tersebut akhirnya disangkakan karena memotong Rekaman Bergambar dan Bersuara yang awalnya 1 jam menjadi 30 detik, padahal disitulah akar permasalahannya, permasalahan tetap ada di tayangan 1 jam tersebut, sebaliknya andaikan Si Sipit Bermulut Kotor tak melakukan apa yang telah dilakukannya kala itu, semuanya tak ada masalah. Namun kali ini tersangka bukannya dibiarkan berkeliaran tapi langsung ditahan, padahal Rekaman Bergambar dan Bersuara asli tersebut muncul di halaman maya resmi pemerintah benua yang kini sudah lenyap entah kemana.

Lucunya, ketika para ‘Jubah Putih’ dan masyarakat Negeri Dongeng menanyakan dimana keadilan mereka malah dianggap makar, seakan Para Kulit Coklat yang kebetulan mayoritas itu harus tertidas, karena jika minoritas yang tertindas itu adalah opresi mayoritas. Tapi ini bukan masalah politik ataupun mayor-minor, ini hanya masalah keadilan, dimanakah konsistensi penegakan hukum oleh lembaga Pengayom dan pelindung? Mungkin yang dilindungi adalah ‘orang berduit’, seakan hukum bisa diperjual-belikan.

Mirip seperti sangkaan miring mereka tentang klaim Para Orang Berilmu Negeri Dongeng, ketika kurang seminggu lagi para ‘Jubah Putih tersebut kembali turun ke jalan, lembaga pengayom dan pelindung justu tiba-tiba minta Klaim pada Para orang Berilmu Negeri Dongeng terkait hukum ibadah hari ke-lima di jalan raya.

Tak kurang, ketakutan itu juga dipaksakan kepada sebuah badan yang mengaku pelindung dunia cyber, anggap saja seperti Negeri Dongeng Cyber Defense, undang-undang baru pun diberlakukan yang secara kasat mata bukan untuk melindungi rakyat negeri tersebut melainkan untuk melindungi kepentingan oknum pemerintahan sekaligus menakut-nakuti rakyat. Negeri yang dijajah oleh perjudian dunia maya itu justru membiarkan situs-situs perjudian, target barunya: situs-situs korban pelecehan Kepercayaan. Di bredel dengan alasan “Penebar Kebencian”. Kiranya mirip beberapa puluh tahun lalu ketika rakyat dan media dibungkam oleh rezim yang lain di negeri tersebut seakan melahirkan pemerintahan yang anti-kritik. Nampaknya mereka belum bisa memahami dan membedakan antara membenci perbuatan dan membenci pelaku.

“Patriotism is supporting your country all the time, and your government when it deserves it” -Mark Twain

BONUS:

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s