Perbaikan Arah Kiblat, mungkinkah?

Teringat ketika jaman masih SD/SMP dulu yang kala itu sekolah belum punya mushola jadi harus tanya teman yang bermukim disekitar sekolah untuk menanyakan kiblat

 

“Kiblat e nang endi?” (kiblatnya kemana?)

“Kakbah”

 

polosnya ketika masih kanak-kanak dulu, polos tapi ada benarnya.

Nah.. pada tanggal 28 Mei 2017 tepat pukul 16:18 matahari berada tepat diatas kota suci Mekkah jadi merupakan momen yang tepat untuk memperbaiki arah kiblat, btw ternyata MUI pernah meralat fatwa mengenai kiblat pada tahun 2010 yang sebelumnya pada Indonesia menghadap Barat kini menjadi Barat Laut.

Bagi kita yang tinggal di kota Mendung pastinya cukup sulit untuk melakukan perbaikan kiblat, maka saya menggunakan perangkat lunak seperti Stellarium. Software ini bisa menghitung dan memprediksi tata letak benda angkasa termasuk bintang-bintang.

 

berikut penampakan posisi matahari jika saya memasukkan lokas kota Bogor pada 28 Mei 2017 pada pukul 16:18, posisi azimut matahari berada pada 295 derajat dan 22 menit

 

Sekarang saya rubah lokasinya di Kota Suci Mekkah, tanggal dan jam tetap sama seperti sebelumnya, karena saya menggunakan gps di leptop maka menggunakan waktu setempat, matahari berada di ketinggian 89 derajat dan 54 menit, hampir mendekati 90 derajat (tegak lurus)

 

Saya juga menggunakan kompas digital di hape untuk memverivikasi ke arah mana dan berapa derajat kiblat saya, eh ternyata muncul angka 295 derajat, sama seperti posisi azimut matahari yang tampak di stellarium ketika di bogor.

 

KURANG PERCAYA HASILNYA!!! akhirnya google earth turun tangan, saya gambar garis dari bogor ke kota suci mekkah, eh muncuk lagi angka 295 derajat. Jadi kesimpulannya arah kiblat dimana saya berpijak adalah kurang lebih 295 derajat.

 

Tak sampai disitu, pasalnya fenomena ini akan terulang pada 16 Juli 2017 pada pukul 16:27, saya cek sekalian saja dengan stellarium

Eh muncul lagi angka 295 derajat pada gambar pertama dan 89 derajat pada gambar kedua. dapat stempel VERIFIED deh

 

Problem kedua melintas dibenak saya: “Apa jadinya kalau menggunakan peta bumi datar?”

Kontroversi pun berlanjut, mengingat aliran bumi datar belum punya simulasi celestial seperti stellarium maka saya menggunakan peta bumi datar yang konon katanya benar. Bisa didonlot disini dan hasilnya pun mencengangkan

 

pertama saya tarik garis lurus dulu Bogor ke Kota Suci Mekkah

 

Kemudian menggunakan sumbu yang menghubungkan Utara dan Selatan yang mereka punya maka ketemu garis yang bersinggungan

 

Untuk mencari besar derajatnya saya tak kekurangan akal, saya gunakan deh autoCAD, besarnya sudut antara garis yang menghubungkan Bogor-Mekkah dengan garis yang mengubungkan Utara-Selatan kurang lebih sebesar 60 derajat, jika digunakan dengan kompas maka 360-60=300 derajat, jadi jika bumi datar kiblat di bogor seharusnya kurang lebih 300 derajat. Benar ada selisih 5 derajat.

Nah, sekarng terserah mau percaya mana 295 derajat dari pembuktian dengan berbagai alat ukur dan simulasi atau 300 derajat dengan menggunakan asumsi?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s