Indongengsia 484: Wah Bahaya

Sudah hampir dua tahun negeri Indongengsia ku dilanda sebuah wabah, namun hingga kini tak kunjung reda, sebaliknya wabah ini malah melebar menjadi krisis-krisis yang lain yang sebenarnya karena ulah manusia. Sedangkan di negara tetangga terjadi fenomena Belanja Panik, ada juga negeri yang dilanda kelaparan, serta beragam bencana lain.

Penasaran apa yang dilakukan ‘Dunia Selainku’, aku berangkat  menggunakan teknologi yang tak masuk akal, sebuah alat yang bisa menghantarkanku ke dunia paralel..

WUZZZZ….

Aku mendarat di Indongengsia berkode “484” dan kutemukan seseorang yang mau menceritakan pengalamannya mengenai peristiwa wabah yang ternyata sudah terjadi 8 tahun lalu, sebut saja Cokro, dia adalah seorang politikus ketika wabah itu terjadi.

cool plague doctor by reservatio on imgur
cool plague doctor by reservatio on imgur



COKRO, 64, MANTAN POLITIKUS

“Aku masih ingat ketika wabah itu terjadi di negeri seberang, kala itu kami sedang dihajar oleh berbagai bencana alam, kami harus memulihkan keadaan politik, ekonomi dan sosial, kami tidak sempat terpikirkan oleh bencana wabah yang kian meluas itu, kami hanya tertawa-tawa saja sambil meyakinkan rakyat kami bahwa kita akan baik-baik saja. Sembari melakukan semua itu, proyek Ekspansi Pulau Baru terus kami lakukan, dana proyek tidak boleh diganggu gugat meskipun dana tersebut masih berupa pinjaman pinjaman berangsur dari luar negeri maupun swasta. Jujur kami tidak ada persiapan untuk menghadapi wabah itu, kami hadapi dengan gegabah dan berharap satu atau dua bulan akan berlalu dengan sendirinya.

8 minggu berlalu, belum ada tanda tanda wabah akan reda sementara negara-negara lain sudah menemukan pasien pertamanya, ada yang mengkonfirmasi kematian pertama bahkan ada juga yang menutup semua jalur masuk dan keluar di negaranya. Kami? Waktu itu kami juga merasa cemas, namun kami terlalu lamban menyadari bahwa kami tak sedikitpun, sama sekali tak punya persiapan menghadapi musuh baru ini. Yang kami bisa lakukan hanya meyakinkan masyarakat bahwa kita baik-baik saja. Ya, hanya itu yang kami lakukan. Saat itu pun kami juga belum mendeteksi dan menemukan pasien pertama karena seperti yang aku katakan tadi, kami tidak bersiap akan datangnya wabah.

Hingga pada minggu ke-9 akhirnya wabah tersebut mulai menjalar di negri kami, aku tak mengatakan ini terjadi secara tiba-tiba namun kami ketahui –secara tiba-tiba– 20 ribu orang lebih terinfeksi di dalam Kota Kapital. Minggu ke-10 kami adakan tes untuk kurang lebih 3 juta orang secara acak, hasilnya cukup mencengangkan, lebih dari 100 ribu orang terjangkit di dalam Kota Kapital sedangkan ada lebih dari 2,5 juta orang terjangkit di dalam negeri, sementara angka kematian hampir menyentuh 30% dengan 25%-an pasien meninggal akibat wabah dan 5%-an meninggal belum bisa dipastikan penyebabnya.

Pada minggu ke-13 dokter dokter kami kewalahan, puluhan tenaga medis terpapar, beberapa meninggal. Masyarakat Belanja Panik, harga-harga mulai tidak terkendali, bayangkan saja harga satu lembar masker satu kali pakai bisa mencapai 10000 yang biasanya hanya seharga 1000, dalam minggu tersebut kami hanya bisa menghimbau dan menghimbau. Salah satunya himbauan kami adalah masker hanya untuk yang sakit saja dan supaya masyarakat tidak menarik uang mereka di bank serta tidak melakukan Belanja Panik. Namun ironi, nilai mata uang kami terus melemah dikarenakan investor menarik semua uangnya dari perusahan-perusahaan.

Banyak tenaga medis kami terpaksa bekerja dalam kondisi yang tidak aman dikarenakan langkanya perlengkapan steril yang menjadi standart kesehatan, mau bagaimana lagi, kesehatan dahulunya tidak menjadi prioritas bagi kami, tidak juga pernah terbesit di pikiran bahwa kesehatan adalah salah satu investasi penting bagi negri kami.

Minggu ke-14 kami kebingungan, kalap, kami pun mencontek jejak negara-negara lain dalam menghadapi pandemi mulai dari pembelian jutaan alat tes dari negara tetangga yang ternyata adalah produk gagal hingga melakukan “semi karantina” pada beberapa distrik, jujur kami tak mau banyak yang meninggal karena wabah namun kami juga tak mau ekonomi negeri runtuh, maka kami pikir yang terbaik adalah melempar bola panas keputusan karantina distrik secara sebagian atau total kepada para Kepala Distrik.

Para Kepala Distrik kelabakan, saling menyalahkan satu dengan yang lainnya karena tidak ada yang mengkomando, walaupun begitu ada beberapa distrik yang mengambil inisiatif karantina total meskipun pada akhirnya kami larang karena sedang kami buat dasar hukumnya, ya, waktu itu kami plin-plan, karantina tidak berjalan efektif karena masyarakat masih dapat berpindah dari satu distrik ke distrik lainnya.
Pada akhirnya dasar hukum telah selesai kami susun, terjadi pada minggu ke-17, daerah sekitar Kota Kapital bisa di karantina secara menyeluruh, para Kepala Distrik bisa kembali berdamai.

Tapi Pe-eR kami belum selesai, karantina total pada Distrik menimbulkan masalah baru, masalah ekonomi tentunya, banyak masyarakat kalangan non-elit yang terpengaruh dengan fenomena badai susulan  ini.

Yah.. itu sedikit cerita delapan tahun lalu yang bisa aku bagikan, selebihnya ada hal hal yang baiknya tidak aku ceritakan. Pesanku, Kesehatan adalah investasi, karena ketika kamu mati maka kamu sudah tidak butuh uang, tapi yang memulihkan ekonomi adalah orang yang masih bernyawa”

Perjalananku masih berlanjut di dunia yang sama untuk menemukan kisah berbeda dari sudut pandang yang lain.

(bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s