Indongengsia 484: Sang Gembala

Sang Gembala, begitu orang tua serba putih itu dijuluki. Konon ia dulu memiliki sekitar dua ratus enam puluh ribu domba gembalaan diatas tanah sekitar empat ratus hektar.
Sayang sekarang hanya tinggal beberapa ribu saja dan dari setengah itu mengalami cacat seumur hidup.

Kisah ini bermula dari sebuah Kejadian Luar Biasa yang tersebar dengan cepat di negrinya. Para ilmuwan menemukan sebuah penyakit baru yang dapat menjangkiti hewan ternak dan dengan segera menggegerkan seantero negri, pasalnya penyebaran penyakit ini cukup sulit dideteksi dengan kasat mata apalagi penyakit ini mudah menyebar diantara hewan-hewan ternak yang berkumpul sebagai sebuah kawanan.

Sang Gembala kemudia bereaksi amat gesit, ia segera memanggil seribu dokter hewan untuk melakukan pemeriksaan pada sepertiga domba-dombanya, hasilnya cukup memuaskan Sang Gembala, diketahui setengah dari sepertiga domba yang di periksa terjangkit penyakit dan kemudian ia pisahkan kawanan yang sakit dengan yang sehat.

Namun tak sampai seminggu, banyak domba sakit yang mati dengan mulut mengering sedangkan beberapa domba dari kumpulan yang sehat juga mati dengan mulut mengering. Sekali lagi ia memanggil seribu dokter untuk memeriksa sepertiga dari kawanan yang sehat, ditemukan lagi domba-domba yang sakit dan ia dipisahkan dari domba-domba yang sehat.

Hanya selang beberapa hari, banyak domba dari kawanan sakit yang mati namun tidak hanya dengan mulut yang mengering tapi juga dengan mata yang membelalak, begitu pula dengan beberapa domba di kawanan yang sehat.

Kehabisan akal serta biaya, dia memanggil lagi kali ini dua ribu dokter hewan untuk memeriksa semua domba yang masih sehat sekaligus, hasilnya beberapa domba diketahui sakit dari yang ringan hingga parah. Kemudian pisahkan lagi domba sakit dari kawanan yang sehat, tidak sampai disitu, ia kerahkan dua ribu dokter lagi untuk merawat domba-domba yang sakit hingga beberapa diantaranya sembuh.

Dalam satu bulan saja dua puluh ribu dombanya mati, delapan puluh lainnya sakit, dan sisanya masih dianggap sehat.

Seminggu…

Dua minggu…

Tiga minggu..

Beberapa domba yang sakit berhasil disembuhkan meskipun ada beberapa diantaranya yang mati, beberapa domba yang tadinya sehat kini terlihat sakit. Namun diantara banyaknya domba yang mati ia amat berharap bahwa si Embek, domba kesayangannya yang bulunya paling putih selamat dari penyakit

Duduk termenung, ia sedih karena domba-dombanya banyak yang mati, hartanya pun terkuras untuk membayar biaya dokter ditambah lagi tidak ada pembeli domba yang datang mampir belakangan ini, pikirannya kalut dan hanya tertuju pada si Embek; “Bagaimanapun si Embek harus hidup”.

Kesedihannya berbuah keputusan, ia memecat semua dokter kecuali beberapa ratus, ia memerintahkan para gembala pembantunya untuk membaurkan kawanan domba yang sakit ke kawanan domba yang sehat, ia memerintahkan agar menjual apa yang bisa dijual untuk membayar pekerjanya termasuk melindungi si Embek dari kematian.

Hal-hal yang disarankan para dokter ia abaikan, ia beranggapan bahwa jika penyakit bisa menular maka kesembuhan juga bisa menular, ia hanya bisa berharap penyakit ternak ini segera berlalu dan si Embek selamat.

“Lagipula, ini hanya hewan bukan?” Pikirnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s