Khilafah dan Demokrasi

hypnoturbulence:

“Sistem demokrasi ada yang bisa dimanfaatkan untuk dakwah, Karena adanya kebebasan berpendapat. Maka, Hizbut Tahrir justru berkembang ke negara-negara yang menganut sistem demokrasi, seperti di Indonesia. Di AS, Inggris, dsb, HT lebih bebas bergerak dibanding dengan di Arab Saudi.”

Originally posted on Sky is the Limit:

Oleh: Adian Husaini*

Sebenarnya, masalah demokrasi bisa dibicarakan dengan lebih ilmiah. Istilah “demokrasi” tidak tepat didikotomikan dengan istilah “khilafah”. Tetapi, lebih tepat, jika “demokrasi” versus “teokrasi”. Sistem khilafah beda dengan keduanya. Sebagian unsur dalam sistem khilafah ada unsur demokrasi (kekuasaan di tangan rakyat) dan sebagian lain ada unsur teokrasi (kedaulatan hukum di tangan Tuhan). Membenturkan demokrasi dengan khilafah, menurut saya, tidak tepat.

View original 714 more words

Secuil hasil kerja Mister Koha untuk Ibukota

1. Ahok Tidak Suka Ada Kolom Agama di KTP, alasannya ngapain pake agama di KTP? di negara maju aja gak ada kolom agama di KTP, pernyataan ini di tentang banyak pihak, termasuk FPI.

Proof:
a. http://www.merdeka.com/jakarta/ahok-saya-gak-suka-ada-kolom-agama-di-ktp-bodo-amat.html
b. http://www.republika.co.id/berita/nasional/politik/13/12/17/mxxcpo-ahok-komentari-kolom-agama-di-ktp-ppp-berang
c. http://www.nahimunkar.com/ahok-bohong-dan-tak-suka-ada-kolom-agama-di-ktp/
d. http://www.tribunnews.com/metropolitan/2013/12/13/ahok-tegaskan-tidak-suka-adanya-kolom-agama-di-ktp

2. Ahok Tidak suka dengan adanya tabligh akbar dan majelis pengajian diruang publik, apalagi yg membuat macet, tapi anehnya pemprov DKI malah menutup sejumlah ruas jalan selama pelaksanaan Jakarta Night Festival (JNF) atau Malam Muda-Mudi.

Proof:
a. http://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/13/06/20/moolp3-hut-jakarta-pemprov-tutup-tiga-ruas-jalan
b. http://www.tempo.co/read/news/2013/12/31/083541314/Polisi-Mulai-Tutup-Ruas-Dukuh-Atas-Monas
c. http://www.nahimunkar.com/surat-pembaca-mui-dki-jakarta-melarang-tabligh-akbar-di-jalan-raya/

3. Tahun 2013 adalah untuk pertama kalinya di Jakarta ada imbauan dari gubernur untuk tidak melakukan takbir keliling saat lebaran.

Proof:
a. http://www.islampos.com/jokowi-larang-takbir-keliling-tapi-tidak-untuk-konser-metallica-75437/
b. http://www.indosiar.com/fokus/pemda-dki-larang-takbir-keliling_55711.html

4. Sewaktu lurah lenteng agung, Lurah Susan yg non muslim ditolak oleh warga setempat dan meminta harus diganti, Ahok keberatan, bahkan ahok sangat arogan melecehkan aspirasi warga Kelurahan Lenteng Agung, kasus ini sampai kepada Mendagri, Mendagri yang pada saat itu menyatakan ingin mengevaluasi penempatan Lurah susan, Ahok tidak terima dan marah-marah.

Proof:
a. http://news.fimadani.com/read/2013/10/31/tak-bertemu-lurah-susan-saat-sidak-ahok-tak-marah/
b. http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2013/08/28/26523/lurah-perempuan-kristen-susan-jasmine-zulkifli-murtadin
c. http://politik.kompasiana.com/2013/09/27/suruh-mendagri-belajar-konstitusi-ahok-kurang-ajar-595617.html

5. Pemprov DKI membongkar Masjid Baitul Arif tanpa musyawarah dengan tokoh, Ulama dan jamaah Masjid tsb, pembongkaran masjid tsb menyinggung banyak pihak, karena kawasan ini merupakan kawasan Muslim yang sangat taat dan sangat fanatik sejak zaman penjajahan, banyak tokoh alim ulama disini.

6. Pemprov DKI membongkar Masjid Amir Hamzah di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, padahal Masjid ini adalah masjid bersejarah yg di bangun Ali Sadikin, dilokasi ini akan dibangun Gedung Fakultas Film IKJ dan taman.

Proof:
a. http://www.nabawia.com/read/1775/setelah-masjid-baitul-arif-pemprov-dki-kini-bongkar-masjid-bersejarah-di-tim
b. http://www.dakwatuna.com/2013/10/17/40858/kini-giliran-masjid-bersejarah-yang-dibongkar-oleh-pemprov-dki-jokowi-ahok/
c. http://www.suara-islam.com/read/index/8534/Pemprov-DKI-Jakarta-Perintahkan-Pembongkaran-Masjid-Baitul-Arif
d. http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/13/09/18/mtbkb5-mui-minta-pemda-dki-sediakan-masjid-sementara-di-sekitar-rusun-jatinegara
e. http://pesatnews.com/read/2013/09/19/35118/demi-rusun-pemprov-dki-bongkar-masjid
f. http://jakarta.okezone.com/read/2013/10/16/500/882188/jokowi-bongkar-masjid-bersejarah-di-tim

7. Meski sudah membongkar masjid2 diatas namun Ahok membela habis2an saat Lahan Gereja Immanuel Dijual, Menurut Ahok, gereja tersebut merupakan cagar budaya yang ditetapkan Pemprov DKI Jakarta.

Proof:
a. http://www.merdeka.com/jakarta/ahok-majelis-sinode-gila-lahan-gereja-immanuel-malah-dijual.html
b. http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/13/12/21/my4mrd-lahan-gereja-immanuel-dijual-ini-reaksi-ahok
c. http://www.tribunnews.com/metropolitan/2013/12/20/ahok-tidak-tahu-alasan-gpib-immanuel-jual-tanah-ke-tni-ad

8. Ahok ingin mendirikan lokasi prostitusi, langkah ini di tolak oleh banyak pihak, termasuk MUI, Muhammadiyah, IMM, namun ahok langsung berang, ketika Muhammadiyah menolak langkah tersebut Ahok tidak terima, ahok mengatakan Muhamadiyah Munafik.

Proof:
a. http://www.bersamadakwah.com/2014/01/muhammadiyah-tolak-lokalisasi.html
b. http://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/14/01/07/mz0agm-sebut-muhammadiyah-munafik-ahok-dipolisikan
c. http://jakartabagus.rmol.co/read/2013/12/31/138281/Ahok-Sindir-Muhammadiyah-Soal-Legalisasi-Prostitusi-

sumber:
Pejwan Google

Berapa Yang Kita Miliki?

Dahulu sekali, sebut saja beberapa ratus tahun yang lalu ada sebuah kerajaan Tak Bernama dengan ditengah antah berantah, dikelilingi gurun pasir seluas Sahara, bayangkan saja setting yang selalu muncul pertama kali ketika terdengar kata ‘Timur Tengah’. Teriknya matahari dikala siang, dinginnya rembulan dikala malam, gurun pasir, onta, pepohonan yang hampir mati, oasis, atau apalah.

Negri Tak Bernama itu memiliki seorang raja, boleh juga disebut sultan dalam setting kebudayaan timur tengah, yang bernama Fulan. Seorang Sultan bertangan besi, tak ragu menghukum siapa saja yang bersalah meskipun keluarganya sendiri. Tapi jangan salah sangka, pemimpin bertangan besi inilah yang diperlukan setiap masyarakat, dan disinilah terletak kebijaksanaan Pemimpin Bertangan Besi.

Diam-diam, sang sultan meski bijaksana tapi juga suka berpesta, mengadakan pesta besar disetiap tengah bulan, dimana uangnya dihamburkan untuk berpesta, membeli makanan ini dan minuman itu untuk disajikan kepada tamunya yang terdiri dari para kaum dhuafa.
Continue reading

Korban-Korban FPI

Alkisah ada seorang anak dan bapaknya serta seekor keledai. Mereka berdua lewat didepan pasar dengan menuntun keledainya, orang-orang di pasar berkata “kalian sungguh bodoh wahai musafir, kalian punya keledai namun tak kalian tunggangi”

Mendengar ocehan tersebut maka si anak dan sang bapak menunggangi keledai hingga di sebuah perkampungan. Orang-orang di perkampungan berkata “kalian sungguh kejam wahai musafir, keledai kecil itu tak kuat untuk kalian berdua”

Maka dengan segera si anak turun dan menuntun keledai yang ditunggangi sang bapak hingga di sebuah perkebunan. Orang-orang di perkebunan berkata “wahai sang bapak, betapa tak memiliki kasihan engkau pada anak kecilmu itu, biarlah ia yang mengendarai keledainya”

Segera, sang bapak turun dan si anak menaiki keledainya hingga di sebuah perkuburan, seraya orang-orang yang telah dikubur itupun berkata “dasar anak durhaka, membiarkan bapakmu berjalan sementara engkau dengan nyamannya duduk di pnggung keledai itu, maka lihatlah siksa kubur bagi anak durhaka!”

Sungguh, jika kita selalu mengikuti perkataan manusia tak akan ada ujungnya, selalu salah dan salah. Hal itu juga terjadi di masa kini. cekidot

bisa dipetik pelajaran: kalau kau melakukan sesuatu karena manusia akan dijamin KEKECEWAANNYA, jika kau melakukan sesuatu karena Allah maka akan dijamin KEPUASANNYA

…………………..

SOURCE

Cinderamata dari HTI untuk PKS – ReBlog

CINDERAMATA DARI HTI UNTUK PKS

Halaman: (1/3) >>> Andi Hakim : CINDERAMATA DARI HTI UNTUK PKS

Mencermati sikap dakwah HTI terhadap PKS memang cukup menarik. Bukan karena adanya musyarokah diantara keduanya, namun menjadi menarik karena opini yang keluar dari DPP HTI hampir selalu bernada negatif terhadap PKS, sementara DPP PKS justru sebaliknya memperlakukan HTI benar-benar sebagai seorang saudara seiman dalam perjuangan.

Setidaknya hal ini terekam dari kunjungan silaturrahim beberapa pejabat tinggi PKS ke kantor DPP HTI pada tanggal 30 Juli tahun lalu. Dimana dalam pertemuan ini Presiden PKS, Ir. Tifatul Sembiring, sebagai orang nomor 1 yang dibelakangnya berhimpun tak kurang dari 8 juta suara masyarakat Indonesia, dengan merendahkan hati berkunjung ke DPP HTI yang menurut Metro Realitas Metro-TV beberapa waktu lalu HTI hanyalah sebuah kelompok kecil saja di Indonesia.

Sikap lapang dada dan tidak ‘memusuhi’ siapa saja demi ukhuwah dan kemaslahatan umat Islam ini dikuatkan oleh pernyataan Mahfudz Shiddiq yang saat ini berposisi sebagai Ketua Fraksi PKS DPR RI. “PKS sejak kelahirannya tidak pernah meniatkan diri untuk menjadi ancaman siapapun, oleh karena itu kami tidak pernah mempersepsi siapapun sebagai ancaman,” tegas Mahfudz(15/08/2007). Sementara berbeda dengan sikap ‘istiqomah’ yang ditunjukkan DPP HTI terhadap PKS hingga detik ini. PKS justru sebaliknya berupaya merajut persaudaraan dan merendahkan diri. Meski sebaliknya HTI terbaca terus berupaya mendongkel citra Islam dari tubuh PKS. Buletin HTI Al-Islam edisi 400 yang mengusung judul ‘Berharap Kepada Partai Islam?’ Jika di telaah secara mendalam arahnya demikian jelas dan terang benderang, kemana maksud dan tujuannya. Demikian pula dengan Al-Islam edisi 356-nya yang memfitnah PKS menerima dana DKP. Walaupun sampai detik ini, setelah hampir setahun lamanya, mereka masih merasa nyaman dan ‘ogah’ meminta maaf. Alih-alih menyampaikan permohonan maaf, mereka malah bilang tuduhan atau fitnah yang berdalilkan qola ICW itu, mesti diposisikan sebagai ‘nasehat’ bagi PKS.

Membaca Sikap Kader HTI di Akar-Rumput Setali tiga uang dengan pemimpinnya, sikap dan opini kader-kader HTI ditataran akar rumput juga tak jauh dari induknya. Seperti saudara ‘Bejo’ yang hingga hampir satu tahun ini tak punya nyali memunculkan jati dirinya. Orang umum mungkin bilang ia ‘berhasil’ menjadi sosok misterius, tapi bagi penulis si Bejo ini hanyalah kader HTI pengecut dan pecundang. Entah tulisan sendiri entah mencatut dari sumber resmi lain di HTI, tulisan-tulisan berjudul ‘Parpol Islam’ dan ‘Sulitnya Istiqomah’ yang muncul ketika isu PKS menjadi Partai Terbuka usai Mukernas 1-3 Februari 2008 silam, begitu gencar disebarluaskan via email-email yang berhasil ia bajak. Demikian pula dengan kader HTI yang bernama Hanif Al-Falimbani. Beberapa hari setelah Mukernas PKS di Bali awal Februari lalu, di blognya ia mengetengahkan sebuah tulisan berjudul ‘Partai Keadilan Sejahtera Riwayatmu Kini… ‘. Tak tanggung-tanggung di salah satu bagiannya ia menuliskan sebagai berikut “Tetapi ada satu hal yang semakin terang benderang dari sikap PKS ini, yang membuat pendapat sementara kalangan lebih meyakinkan untuk dibenarkan, yakni bahwa PKS memang tidak sungguh-sungguh memperjuangkan Syariat Islam dan Khilafah. Ada benarnya juga pendapat Jefrie Geofannie, PKS saat ini justru tidak ada bedanya dengan partai-partai nasionalis-sekuler lainnya.”

Seperti ‘qola ICW’ diatas, Sdr. Hanif ini juga merujuk kepada pernyataan Jefri Geofannie yang dalam dialog di MetroTV pada 5 Februari 2008 lalu jelas-jelas analisanya terhadap PKS sangat dangkal. Penulis menyaksikan sendiri acara tersebut. Sayangnya dalam tulisan yang cukup panjang lebar menciderai PKS dengan persangkaan kosong itu di balutnya dengan kedok atas nama ‘kasih sayang’. Padahal saat masuk ke weblog penulis ini (http://rhisy.blogsome.com) apa kata-kata yang pertama kali muncul dari Sdr. Hanif ini “Wah.. ternyata di sini tho pembuat sampah-sampah busuk itu..”(09/01/08). Kelihatan gagah dan ‘pemberani’. Ia mengaku dirinya bukan orang HTI (agar terlihat orang netral), saying sekali kebohongannya terbongkar dan di komentari beberapa orang (bahwa ia sungguh-sungguh HTI tulen luar dalam).

Pada komentar berikutnya (terakhir) tertulis sebagai berikut, “Maaf Mas Aris.. saya bukan siapa-siapa, lebih baik antum menasehati saya secara pribadi saja ya.. Maaf..” Kasihan sekali pelaku kebohongan ini. Disamping itu, kader-kader HTI juga rajin mengkoleksi berita-berita yang terkemas miring tentang PKS dari media-media umum dan nasional untuk dijadikan bahan perdebatan menyudutkan terhadap PKS. Seperti biasa, mereka beralasan sebagai nasehat dan masukan untuk PKS. Niatnya sih kelihatannya baik, namun apakah demikian kenyataanya? Tak Semanis Bahasa ‘Mulut’ Ternyata tidak demikian faktanya. Fakta dilapangan tak ’semanis’ bualannya. Bersamaan ketika tulisan yang menanggapi bulletin resmi HTI Al-Islam edisi 361 ramai dinikmati berbagai kalangan pada sekitar pertengahan tahun lalu, salah seorang kader PKS yang menjadi khotib Jum’at diberhentikan ‘tanpa hormat’ oleh kader-kader HTI yang merasa ‘berkuasa’ atas kebijakan DKM di sebuah masjid perusahaan di Kota Tangerang. Bukan karena ceramahnya menyimpang dari Islam, namun hanya lantaran isi ceramah kader PKS tersebut mementahkan opini tindakan fitnah yang dilakukan oleh ’sebuah gerakan Islam’ terhadap pejuang HAMAS di Palestina.

Khotib yang juga salah seorang ustadz PKS Kota Tangerang itu menjungkirkan tuduhan yang sebelumnya dikupas oleh khatib kader HTI yang mengisi khutbah pada Jum’at satu pecan sebelumnya dengan melontarkan fitnah kepada HAMAS sesuai dengan ‘rekomendasi’ dari DPP HTI lewat Al-Islam edisi 361-nya. Al hasil sejak Jum’at itu ia tak lagi mendapat jadwal mengisi khutbah di masjid perusahaan tersebut.

Jika dicermati gayanya mirip perilaku Soeharto yang gemar memberangus siapa saja yang dianggap mengancam dan menelanjangi ‘kekuasaan’nya. Usai sholat Jum’at tersebut, khatib yang dikenal sebagai kader PKS itu langsung ‘dikeroyok’ dan dikerubungi kader-kader HTI yang bercokol di DKM. Intimidasi gaya lama.

Bukan hanya itu, ditahun 2002 sampai 2005-an juga ada fakta lain yang tak bisa ditutup-tutupi bagaimana sejatinya sikap hati mereka terhadap kader-kader PKS. Ketika sebuah LDK di sebuah kampus di Kota Tangerang tersusupi HTI dan dengan kelicikannya setelah beberapa waktu akhirnya LDK tersebut dikuasai oleh kader-kader HTI, maka apa yang terjadi? Kegiatan kajian lain selain yang ber-’merk’ HTI atas nama kebijakan organisasi ‘100%’ dihalang-halangi dan dipersulit alias dilarang. Bahkan uang yang merupakan hasil penggalangan dana oleh ‘kader-kader PKS’ dari kegiatan mahasiswa diluar kajian ber-merk HTI, dirampas untuk kepentingan kegiatan-kegiatan beraroma HT tanpa pertanggungjawaban.

Penulis menjadi saksi langsung dan bahkan masih mengantongi nama kader HTI tersebut. Namun, alhamdulillah perjalanan waktu menjadi jawaban yang sangat adil. kuartal pertama tahun 2005 kepengurusan HTI itu terjungkal dan hengkang lantaran kedzalimannya. Dan mohon maaf harus penulis sampaikan disini, otak utama dibalik penjungkalan dominasi kader HTI yang dzalim itu adalah penulis sendiri. Tak butuh waktu lama, hanya selama kurang-lebih 6 bulan penulis mendampingi para mahasiswa berdakwah ‘dibawah tanah’, LDK tersebut telah berhasil diselamatkan kembali dari orang yang dzalim. Kini, kondisinya telah berubah membaik. Saat amanah LDK dipegang kader-kader PKS, aktivis dakwah lain pun masih leluasa melakukan kegiatannya di kampus. Tanpa dihalang-halangi apalagi di kebiri.

Melihat fakta-fakta diatas memang menjadi miris. Belum menjadi ‘khalifah’ saja sudah dzalim, apalagi kalau betul-betul jadi khalifah versi mereka, bukan tidak mungkin akan jauuuuh lebih dzalim terhadap aktivis dakwah dari gerakan dakwah lain. Boleh saja mereka berbangga dan menyombongkan diri karena ‘mampu’ berkoar soal khilafah. Namun, jika khilafah yang dimaksud adalah khalifah yang dzalim seperti gambaran kader HTI yang bercokol di DKM dan LDK tersebut, umat Islam jelas tidak butuh.

Kenyataan ini memang tidak mengherankan jika merujuk pada sejarah HT mengenai sikap pendirinya, Syeikh Taqqiyudin An-Nabhani yang meminta ‘kekuasaan’ atas Ikhwan Yordania kepada As-Syahid Sayid Qutub rahimahullah (tahun 50-an). Padahal ketika itu Ikhwan mengajak Syaikh Taqiyudin An-Nabhani untuk memadukan perjuangan, namun justru yang terfikir olehnya adalah ingin mengambil alih kekuasaan atas Ikhwan di Yordania yang harus terpisah koordinasi dengan ikhwan di Mesir sebagai pusat gerakannya.

Barang kali beberapa nukilan fakta diatas cukup mewakili gambaran ‘tanda mata’ HTI untuk PKS.
Sebuah tanda mata yang hingga hari ini terus mengalir laksana air dari hulu menuju hilir. Meski terus saja PKS didzalimi, nampaknya ia terus melaju dengan kerendah hati-annya. Terus berjuang wahai kafilah dakwah!

Mudah-mudahan ulasan ini bermanfaat bagi umat yang rindu kepada kebenaran dan kebaikan.

sumber : http://rhisy.blogsome.com/
nb: blogsome.com closing down at Dec 2011